Daftar Blog Saya
Daftar Blog Saya
Senin, 15 Oktober 2012
Selasa, 09 Oktober 2012
Kamis, 30 Agustus 2012
Kamis, 23 Agustus 2012
Selasa, 31 Juli 2012
Rabu, 18 Juli 2012
Senin, 25 Juni 2012
Jumat, 22 Juni 2012
Jumat, 08 Juni 2012
Selasa, 07 Februari 2012
Minggu, 29 Januari 2012
Sabtu, 14 Januari 2012
CERITA TENTANG CERPENIS CILIK
CERITA TENTANG CERPENIS CILIK
Oleh Elvira
Suryani
Hari ini
membuatku bersemangat. Kesempatan yang
jarang-jarang untuk mengajar anak-anak lagi.
Menghadapi anak-anak masih menjadi PR besar bagiku. Tak seperti orang dewasa, dan
mahasiswa masih lebih mudah dibandingkan menghadapi anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Bukan aku tidak menyukai
anak-anak. Bukan perkara itu. Hanya
masalah cara saja yang perlu ku pelajari. Jadi kakak mentor bagi mereka butuh
kesabaran yang lebih. Kita harus punya segudang kreatifitas untuk bisa
menankhlukkan mereka.
Sabtu
(14/1) di SD –IT Alhusnayain, di tempat ini lah aku mengajarkan mereka untuk
menulis cerpen. Berangkat pagi-pagi dari rumah pukul 6.15, dengan asumsi agar
tidak terlambat. Meski sebelumnnya pernah ke sana untuk mengisi ekskul di SMP
ITnya, tetap saja, aku lupa naik mobil apa ke sana. Sms teman yang pernah
ngajar di sana, akhirnya aku dapat informasi untuk menuju ke Alhusnayaiin, naik
angkot K31 katanya. Print materi yang dikirim oleh seorang teman, baru lanjut
perjalanan.
Aku naik
angkot 07 terlebih dahulu. Turun di Harapan Baru. Biasanya disitulah angkot K31
lebih banyak nangkiring. Berhubung masih pagi, para supir angkot senang sekali
ngetem. Mereka tidak perduli dengan penumpang mau ada yang terburu-buru atau tidak.
Bagi mereka bagaimana untuk bisa setoran penuh hari ini. Lihat waktu di jam
tanganku sudah menunjukan pukul 7.00 WIB. Aku masih punya waktu sekitar 30
menit lagi untuk sampai di sekolah pukul 7.30 WIB. Sementara aku masih berada
di sekitar MM Bekasi. Ada rasa khawatir. Kesan pertama tak ingin mengecewakan,
itu yang ada dalam benakku. Soalnya menggantikan seorang teman, berarti harus
menjaga kepercayaan yang diberikannya.
Dengan
mulut komat-kamit, aku berdo’a dalam hati semoga si abang angkot mau menjalankan
angkotnya. Setelah ada satu penumpang yang menemaniku. Akhirnya jalan juga.
Sekitar pukul 7.15 aku sampai di Harapan Baru. Turun, memberikan lembaran 3
ribuan. Aku mencari-cari angkot K31. Tengok kiri-kanan, tak ada tanda-tanda
angkot tersebut akan hadir. Aku pun memutuskan untuk naik ojek untuk
mengantisipasi keterlambatan hadir di sekolah.
Ada cerita yang unik disepanjang perjalanan. Seumur hidupku, baru kali ini naik ojek full musik. Si abang tukang ojek ternyata
meyukai lagu Iwan falls yang diputarnya. Aku hanya tersenyum sendiri, melihat
tingkah si abang tukang ojek. Sekitar 10 menit, aku pun sudah menginjakkan kaki di SD-IT
Alhusnayain.
Di sekolah
memang sudah terlihat anak-anak. Namun, aku tidak tahu yang mana anak-anak yang akan
mengikuti ekskul jurnalistik. Aku mencoba menghubungi guru pendamping ekskul
tersebut. Bertanya kepada seorang bapak penjaga kebersihan sekolah.
Ternyata guru tersebut belum hadir. Aku
memutuskan untuk ke Mushola terlebih dahulu. Letaknya diluar gedung sekolah.
Rehat sejenak, selagi masih ada waktu untuk bermunajat, pikirku. Kemudian aku
kembali ke sekolah lagi.
Karena
terburu-buru, aku tidak membawa hanphone simpatiku. Aku menghubungi seorang teman yang telah
merekomendasikan aku untuk menggantikannya hari ini. Ku tulis SMS untuknya.
Setelah beberapa menit smspun berbalas. Aku mencoba untuk menghubung no, HP
guru pendamping Ekskul, namun tak ada jawaban. Aku putuskan untuk bertanya lagi
kepada si Bapak penjaga sekolah. Bapak tersebut menyarankanku untuk ke ruangan
guru saja di lantai 2. Ku ikuti sarannya. Pucuk di cinta ulampun tiba. Aha,
guru pendamping ekskul telah datang. Aku memperkenalkan diri. Guru tersebut menyuruhku
masuk ke ruangan para guru. Perkenalan singkatpun terjadi sambil menikmati teh
pagi buatannya.
Sekitar
pukul 8 pagi, aku diajak ke lantai 3 untuk memulai ekskul jurnalistik. Ada
sekitar sepuluh orang anak yang sudah menunggu didalam ruangan kelas 3A.
Menurut informasi dari bu Yuli, bahwa awalnya ada 50 orangan, tapi yang datang
untuk pertemuan-pertemuan berikutnya hanya kadang 30 , terkadang 20 an, begitu
katanya.
Baiklah
tidak masalah bagiku. Berapapun jumlah anak-anak hari ini. Aku tetap akan
berbagi ilmu dengan mereka. Awal pertemuan, aku memperkenalkan diri. Setelah
itu aku menanyakan satu-persatu nama mereka, kenapa mereka tertarik dengan
ekskul jurnalistik.
“ Aku
penasaran aja kak, kayak apa ekskul jurnalistik itu”. Sahut Fara padaku.
“Aku senang nulis kak. “ Ungkap Caca.
Komentar-komentar
lainpun bermunculan. Beragam motivasi
mereka untuk mengikuti ekskul jurnalistik. Ya, itulah dunia anak-anak. Ada yang
betul-betul dari keinginan mereka sendiri. Ada juga karena dorongan teman.
Untuk
menghidupkan suasana, aku ajak mereka bermain dan bernyanyi terlebih
dahulu. Tujuan awal untuk membuat mereka
nyaman terlebih dahulu. Mereka mencari
pasangan masing-masing, kemudian berhadap-hadapan. Saling menyapa, bernyanyi,
berputar-putar. Persis untuk anak tk, tapi ya itulah yang ada dalam benakku
saat itu.
Ketika kami
sedang asyik bermain game tersebut,
peserta ekskul lainpun berdatangan satu persatu sehingga anggota yang tadinya
berjumlah sepuluh sudah bertambah menjadi duapuluhan. Selesai game, aku meminta perserta untuk membuat
lingkaran. Baru memulai materi. Wah, luarbiasa untuk membuat mereka nyaman,
musti banyak game juga nie.
Sebelum
membahas materi, aku minta peserta mengeluarkan kertas satu lembar . Kemudian
menuliskan nama masing-masing. Menuliskan alamat dan kelas mereka. Lalu, Aku
pun membagikan materi yang akan dibahas.
Akupun
mulai meminta mereka untuk menuliskan satu kalimat yang mereka suka. Setelah
itu diberikan kepada teman disebelahnya. Temannya berusaha untuk melanjutkan
kalimat yang telah dibuat awal. Nampaknya, cara ini mereka agak kesulitan. Ada
yang bisa, ada juga yang masih malas-malasan. Aku cari akal lagi bagaimana
untuk menghidupkan suasana lagi.
Setelah ku
tanya kepada adik-adik dari kelas tiga sampai kelas lima tersebut, mereka mau
main game kembali. Aku memberikan
game asah otak versi ku, ternyata tak mempan untuk membuat mereka semangat.
Wah, apalagi ya, aku sempat bertanya-tanya pada mereka. Sang guru pendamping
ekskul melihatku agak kesulitan beradaptasi.
Ia
berinisiatif untuk membuat game yang sudah akrab dengan anak-anak. Dengan
memberikan contoh, akupun mengikuti permain kata kunci yang diberikan tersebut.
Aku bercerita di tengah-tenngah mereka, membuat kata kunci, setiap kata kunci
yang disebutkan anak-anak harus menyentuh tangan temannya disebelah kanan. Sementara
teman yang disentuh tangannya berusaha untuk menghindar. Suasana kelas hidup
kembali, aku merasa terbantu. Hieks… coba yang dampingi pak guru ganteng ya,
wah bisa betah berlama-lama ngajar anak-anak (khayalan tingkat tinggi, just
intermezzo).
Permainan
kedua sukses. Materi “Menjadi Seorang Cerpenis dilanjutkan. Aku meminta seorang
anak untuk membacakan cerpen di
tengah-tengah temannya. Awalnya banyak yang tidak mau, dengan iming-iming
hadiah, Ada satu anak yang bergegas untuk membaca cerpen. Meski agak kurang
keras, aku berusaha untuk menyimak cerpen yang dibacakan tersebut.
Setelah itu
baru aku bahas unsur-unsur cerpen sesuai dengan contoh cerpen yang dibacakan
tersebut Tema, Setting, Tokoh, dan Konflik.
Kaitkan dengan cerpen yang sudah ada, lalu mengajak mereka menulis.
Waktu yang
tersisa sekitar 30 menit untuk mereka menulis. Aku biarkan mereka berimajinasi
sebebas mungkin. Apa aja boleh, kataku pada mereka. Apa yang kamu suka,
silahkan tulis.Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 WIB. Aku mengitari
mereka satu-persatu. Wah, hebat, ada yang sudah menulis dua halaman. Ada yang
dua halaman, ada yang satu setengah. Aku bangga, tiga halaman yang mereka tulis
ternyata belum selesai. Aku sengaja tidak mengambilnya untuk dikumpulkan. Aku meminta
mereka untuk melanjutkan cerpen mereka di rumah, mengetiknya, lalu mengirimkan
lewat email.
Terima
kasih untuk hari ini, adik-adiku yang manis. Jangan kapok untuk ketemu kakak
lagi. Bahagianya berada di tengah-tengah kalian. Ekskul usai, mereka pamit
sambil mencium punggung tanganku satu persatu. Aku berlalu menyusuri anak
tangga menuju lantai 2 untuk mengisi absen teman yang aku gantikan.
Di ruangan
Kepala sekolah,aku berkenalan dengan guru ekskul angklung. Ia tinggal di
Tanjung Priok. Cukup jauh dariku. Entah jam berapa ia berangkat dari rumah.
Yang pasti iapun rela berangkat pagi, demi anak-anaknya tercinta.
Sayang
sekali aku tak bisa ngobrol berlama-lama dengan guru yang lain diruang
tersebut. Ada agenda lain yang sudah menanti. Aku pamit dan langsung menuju
Unisma. Itu ceritaku. Apa ceritamu?.
Rabu, 28 Desember 2011
DISKUSI PUBLIK
Diskusi
Publik Menuju PILKADA Kab. Bekasi
“SMART LOCAL
GOVERNMENT LEADER FOR GOOD INVESTMENT
POLICY”
Dialog
Diskusi semalam (27/12) yang digagas oleh Institute Leadership Indonesia, masih
memunculkan tanda tanya dibenak saya. Diskusi yang bertempat di @ Home Hotel,
Plaza Metropolitan Tambun Bekasi ini membahas tentang sosialisasi PILKADA yang
akan berlangsung pada bulan Maret mendatang. Dalam diskusi publik sedianya
empat orang narasumber yang akan
berbicara pada malam itu, namun pada kenyataannya dua orang tidak hadir dengan
alasan tertentu. Dari KPU dan Praktisi pendidikan.
Baiklah,
tidak masalah yang terpenting bisa menghangatkan diskusi publik dengan kondisi
peserta yang tadinya ditargetkan oleh panitia sebanyak 50 orang, yang hadir
hanya sekitar 25 orang , termasuk saya dan 3 rekan dosen senior lainnya (dari
akademisi).
Awal
diskusi sebetulnya akan dibuka oleh Ketua KPU Kab. Bekasi yang akan
mensosialisasikan mengenai PILKADA Kab. Bekasi Pada tahun 2012 nanti. Namun
beliau tidak hadir, digantikan oleh sekrtaris beliau Bapak Rahmat Nuryono,
M.Si. Itupun tidak begitu banyak membahas tentang kondisi pilkada Kab. Bekasi.
Pemaparan yang singkat, namun menyisakan tanya yang perlu dijawab berkenaan
dengan aturan-aturan PILKADA 2012 mendatang.
Sekitar 10
menit, moderator telah mempersilahkan pembicara pertama yang berasal dari Ketua
Ombudsmen RI ( kinerjanya hampir mirip dengan KPK), yakni Bapak Danang
Girindrawardana). Dalam paparan makalahnya, beliau menyampaikan pentingnya memilih pemimpin yang berani merombak persoalan-persoalan yang muncul dalam
birokrasi pemerintahan. Salah satunya,
masalah yang masih mendarahdaging di kalangan elit pemerintahan “Maraknya KKN”.
Ada
beberapa kriteria yang beliau ditawarkan kepada calon kandidat yakni sebanyak 6 kriteria yang nantinya
menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih. 1) Memangkas birokrasi yang
gemuk dalam pemerintahan, berarti memaksimalkan kinerja pegawai-pegawai yang
handal. 2)Mengkampanyekan reformasi Birokrasi kepada kalayak, jika dalam masa
pemerintahannya , birokrasi dianggap sudah tidak layak dan diperlukan
pembaharuan. 3) Memperbaiki moral para
pegawainya yang dianggap bobrok dan mencemarkan pemerintahannya. 4) Memangkas
Nepotisme dalam birokrasi.(5 mengontrol anggaran yang begitu besar dengan
melakukan efesiensi, efesiensi di berbagai bidang.(6 memangkas korupsi yang masih
menjadi darah daging dalam masyarakat. Setidaknya ada 6 point tersebut yang
saya tangkap dalam pemaparan beliau.
Disamping
ada tantangan dari pembicara tersebut yang mengatakan “Dicari pemimpin yang
berani populis. Saat ini diperlukan
pemimpin yang berfikir makro, bukan mikro. Permasalahan yang berkembang
dimasyarakat sudah komplek dan tidak berkutat di daerahnya saja, namun sudah
berkembang ke berbagai wilayah-wilayah lainnya, bahkan sampai pada taraf
internasional.
Menurut penilaian
Ketua Onbustman, pemimpin saat ini
jarang yang memiliki keberanian untuk memangkas birokrasi yang sudah dibuatnya
sendiri. Hambatan-hambatan tersebut berasal dari janji-janji kampanye yang
sudah diikrarkan di kontrak politik dengan beberapa partai koalisi, sehingga
adanya rasa sungkan. Ketika birokrasi membutuhkan perombakan, hal itu jarang
dilakukan. Seperti halnya yang dilakukan
oleh Susilo Bambang Yudoyono ketika mereformasi Birokasi bukan memangkas,
menggemukkkan. Sehingga pos-pos anggaran bertambah, seiring dengan pertambahan
elit-elit politik yang masuk di jajaran birokrasi.
Pembicara
kedua berbicara masalah “Prespektif Investor terhadap Kebijakan Pemerintahan
Daerah: (Vice President MGM:Ir. Purwanto, MT.). Ada slogan yang beliau sebutkan
bahwa jika ingin mendapatkan lebih, kita harus berbuat lebih. Berbicara masalah
investasi, beliau mengatakan bahwa terbagi ke dalam dua golonga; 1) Investasi
dari leher ke atas, 2) Investasi dari leher
ke bawah. Investasi dari leher ke atas adalah investasi berupa
pendidikan kepada masyarakat sehingga mereka bisa berfikir untuk meningkatkan
taraf hidupnya. Berbeda halnya dengan investasi dari leher ke bawah yang lebih
bersifat konsumtif, sehingga menumbuhkan masyarakat yang bergantung dan lebih
berfikir instant.
Permasalahan
yang ada di pemerintahan kita adalah “Local Society” krisis kepercayaan
masyarakat rendah. Pemberdayaan sumber daya penting untuk meningkatkan kualitas
kinerja pemimpin.
Beliau
sempat membahas pentingnya kriteria khusus pemimpin yang ditentukan oleh
masyarakat. Seperti halnya di zaman Kerajaan Majapahit, ketika Patih Gajah Mada
menjadi pemimimpin, memiliki 18 kriteria yang diajukan oleh masyarakat. Sayang
sekali pemaparannya tidak terlalu panjang lebar, hanya sekilas saja, salah satu
kriterianya adalah menjadi abdi masyarakat (pelayanan masyarakat/Abdidamika).
Dari
pemamparan kedua pembicara tersebut berkembang ke arah diskusi. Masalah Diskusi
yang diangkat lebih kepada kasus-kasus yang berkaitan dengan masalah dampak
Investasi yang lebih cenderung kepada sektor industry dan jasa. Sektor
pertanian yang menjadi lumbung pangan masyarakat tidak tersentuh sama sekali
oleh para investor. Kemudian penekanan pada sanitasi yang menjadi sumber
masalah dengan banyaknnya lahan-lahan perumahaan serta Industri-industri yang
bermukim di wilayah kab. Bekasi. Dampak ini cukup signifikan terhadap
pengelolaan sumber air bersih dan resapan air yang menjadi penyebab utama
banjir.
Para
audience diskusi publik terdiri dari organisasi kemasyarakat, pengusaha dan
praktisi pendidikan. Salah satu organisasi kemasyarakatan yang hadir pada malam
tersebut adalah HKTI (Himpunan Kelompok Tani Indonesia) Kab. Bekasi yang
mempertanyakan masalah investasi di bidang pertanian yang jarang dilirik oleh
para investor. Kemudian para pengusaha yang bergerak di bidang Industri lebih
mengeluhkan tentang kenaikan UMK (Upah minimum Kabupaten) , kekhawatiran mereka
terhadap larinya para investor ke wilayah lain yang memiliki UMK lebih rendah
di bandingkan Indonesia. Hal ini pun sudah terjadi di Negara RRC yang menaikkan
Upah para pekerjanya sehingga kalangan investor dari luar banyak yang menarik
perusahaan-perusahaan dari negeri China tersebut.
Isue
pemekaran wilayah Kabupaten Bekasi, pendidikan khusus calon Bupati sempatkan di
paparkan oleh para dosen Unisma Bekasi. Perlunya memunculkan pendidikan
karakter bagi pemimpin agar lahirnya para pemimpin-pemimpin yang memiliki
akhlak pancasilais.
Pemaparan
dari diskusi Publik tersebut lebih bersifat pandangan-pandangan yang akan di
kembangkan pada debat kandidat calon Bupati Kab. Bekasi bersama rakyat
kabupaten Bekasi. Semoga wacana yang dibahas tidak hanya sekedar wacana yang
mencuap kemudian menghilang begitu saja tanpa adanya solusi.
Selasa, 20 Desember 2011
KELUH KESAH YANG MENYENGSARAKAN
KELUH KESAH YANG MENYENGSARAKAN
Oleh Elvira Suryani
Apa yang
senantiasa ditargetkan oleh manusia tak selamanya tercapai dengan tujuannya
semula. Ingin mendapatkan pendapatan yang lebih, ingin cepat sampai, ingin
perjalanan lancar, ingin jabatan naik. Banyak ingin-ingin lainnya yang telah
direncakanan dengan matang, jadwal yang rapih dan ternyata tidak tidak sesuai
dengan kehendak manusia. Apa yang terjadi adalah munculnya sifat keluh kesah,
sebagaimana Allah berfirman:
Artinya:
“ Sesungguhnya,manusia itu diciptakan dalam
keadaan berkeluh kesah lagi kikir.” (Qs.Al-Ma’rij: 19).
Banyak
kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat hidup manusia tidak tenang, Bahkan
menyesatkan dan sampai pada perbuatan nekat yang merugikan orang lain.Mungkin
kita bisa ambil contoh kisah seorang ayah yang tidak sabar dalam mendidik
anak-anaknya, dengan berbagai macam kebutuhan hidup yang menderanya. Sementara
sang ayah hanya bekerja sebagai buruh bangungan yang pendapatannya tidak
sebanding dengan pengeluarannya sehari-hari. Ia telah mengeluarkan tenaga dari
pagi hingga petang hari secara maksimal, lalu yang dia dapat adalah upah Rp.
10.000 setiap harinya. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu bahkan sampai
hitungan tahunpun juga seperti itu. Ia merasa sudah bekerja dan berdo’a
maksmimal kepada Allah supaya diberikan rizki yang lebih oleh Allah. Namun, pada
kenyataan nya tetap saja rizkinya tidak berubah setiap harinya. Keluh kesahpun
bersemayam dalam dirinya, bahkan tak jarang mengupat dengan keadaan. Sampai pada
akhirnya sang ayah tadi, karena tidak tahan dengan penderitaan hidup dengan
anak yang banyak, sang ayah nekat mengakhiri nyawa anak-anaknya dengan alasan
untuk mengurangi beban hidupnya.
Persoalan
tidak putus sampai disitu saja, bahkan berujung kepada penjara. Keluh kesah
tersebut menyisakan persoalan yang terkadang tidak berujung. Memunculkan berbagai
macam kesalahan-kesalahan yang tiada hentinya sebagai tindakan yang lahir
darinya.
“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan
ia amat kikir”. (Qs. Al-Ma’rij:20-21).
Banyak hal
yang dapat kita jadikan contoh selain dari contoh yang disebutkan diatas yang
sering kali kita dengar di lingkungan sekitar kita. Seperti halnya karyawan
yang sering mengeluhkan gaji dan jabatan yang tidak naik-naik, kemacetan yang
tak kunjung selesai, dan bahkan hal terkecil yang yang kita anggap sepele
sekalipun bagi orang yang berkeluh kesah merupakan bencana besar yang menimpa
hidupnya.
Keluh kesah
hanyalah menyengsarakan hati, membuat hidup kita tidak tenang bahkan jauh dari
rasa syukur kita kepada Allah yang telah menciptakan kita di muka bumi ini.
Setiap keluh kesah yang bersemayam dalam diri kita, yang ditimbulkan adalah
rasa sakit yang tiada henti. Hati tak pernah lapang, sempit terus-menerus.
Sehingga akibat fatal yang dimunculkan banyak sekali. Bisa saja kita menjadi
orang yang fasik bahkan murtad dari agama Allah.
Meredam Keluh Kesah
Untuk
meredam sifat keluh kesah manusia dapat dilakukan dengan salah cara yakni
bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Coba kita lihat disekeliling kita,
lihatlah apa yang telah kita punyai selama ini.
Hidup yang
diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah untuk kita syukuri. Kita
diberikan kesempatan untuk menghirup udaranya. Menikmati hasil buminya.
Menikmati berbagai macam nikmat yang tak terhitung bahkan penciptakan diri kita sendiri. Andaikan sebuah anggota tubuh
ini dihargai satu-persatu mungkin tidak cukup buat kita untuk membayarnya
kepada Allah. Karena kita tak mampu membuat sesempurna apa yang telah diberikan
oleh Allah kepada kita. Bahkan dengan amalan yang telah kita lakukan ribuan tahun belum mampu kita
membayarnya. Luar biasanya Allah, apa yang kita lakukakan di muka bumi ini akan
dikembalikan kepada kita sendiri. Semua tergantung kepada perbuatan kita.
Namun,
itulah sifat manusia. Tak jarang dari kita yang selalu berkeluh kesah dengan
apa yang diberikan oleh Allah. Selalu merasa kurang. Allah telah memberikan
rezeki yang melimpah, masih saja kurang dan ingin menumpuk lebih banyak lagi.
Allah sudah memberikan kecantikan. Bagi orang yang berkeluh kesah, tetap ada
yang masih kurang.
Dulu
manusia berdo’a ketika dia miskin ingin menjadi orang kaya. Lalu Allah
mengabulkannya. Lalu setelah itu ia berdoa lagi ingin diberikan pendamping
hidup. Allah mengabulkan. Setelah itu mereka mengingkari dengan merusak
pernikahan mereka dengan alasan tidak cocok dengan pasangan mereka. Yang
terjadi selanjutnya adalah selingkuh, bahkan berakhir kepada perceraian.
Keluh kesah
selalu menyumbat pola berfikir positif manusia terhadap sesuatu. Kita tak bisa
menemukan solusi dari permasalahan hidup yang kita hadapi dengan
pikiran-pikiran sempit kepada Allah. Karena Allahpun mengabulkan sesuatu sesuai
dengan prasangka umat-NYA. Bagaimana kita menemukan alternatif-alternatif
perubahan. Jika yang bersemayam dalam diri kita adalah keresahan-keresahan yang
berkepanjangan. Kita tidak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan. Jika hati terus
dilanda ketidaktenangan dengan kondisi hidup yang diberikan oleh Allah, maka
kekufuran akan bersemayam yang menjadikan hati mati dari cahaya iman.
Kekesalan
yang kita bangun justru akan menjadikan amarah yang bisa saja membunuh diri
kita sendiri. Hati yang terlampau sering sesak dan bergelora tanpa pernah
disirami dengan nilai keimananan. Maka hati tersebut bisa menjadi keras, kebenaran
akan susah masuk. Hati tak bisa lagi memisahkan antara yang benar dengan yang
salah. Alamat semakin terpuruklah manusia tersebut di jalan kesesatan. Na’uzubillah min zalik.
Allah berfirman:
“ dan (ingatlah juga),
tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka
Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Qs. Ibrahim:7).
Berkaca
pada firman Allah yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 7 ini bahwa dalam
Islampun untuk mengatasi keluh kesah sudah diberikan panduannya dengan kita
bersyukur dengan apa yang diberikan Allah. Menerima segala takdir yang telah di
buat-NYA. Serta memiliki keyakinan bahwa dibalik setiap kisah-kisah yang
diberikan kepada kita sebagai umat-NYA, tersimpan berjuta hikmah yang dapat
memberikan pelajaran buat manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dengan
menukar keluh kesah dengan rasa syukur yang terus-menerus, manusia tak akan
pernah rugi. Bahkan Allah berjanji dengan menambahnya dengan sesuatu yang tidak
terduga. Kemudian Allah menjadikan hati kita lebih tenang dan tentram. Tiada
lagi kekhawatiran yang berujung negatif. Keluh kesah kita arahkan pada keluh kesah positif (ukhrawi), bagaimana amalan Ibadah kita
bisa diterima atau tidak oleh Allah. Dengan keluh kesah positif kita akan
senantiasa meningkatkan mutu amal ibadah kita menjadi lebih baik.
Orang yang
senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada Allah. Meyakini bahwa takdir
Allah adalah takdir yang terbaik dan segala sesuatu sudah di atur dalam Lauh Mahfuz. Maka ia akan menjalani
hidup ini dengan baik, hati yang damai, dengan senantiasa mengharap ridho Allah
SWT bahwa segala sesuatu adalah pemberian yang terbaik. Sikapnya akan bijaksana
dalam menyikapi setiap kejadian-kejadian. Ia jauh dari kebekuan. Hidupnya
terasa lapang. Tutur katanya lebih santun dan jauh dari sifat mengupat dan berkeluh kesah
yang dapat menyengsarakan.
Perbanyak Zikir Kepada Allah
Selain
menumbuhkan rasa syukur kita kepada Allah untuk menghilangkan rasa keluh kesah
kita. Dengan berzikir akan membantu kita untuk membasuh hati kita dengan
asma-asmanya. Melembutkan hati yang sedang gundah gulana. Berzikir tidak hanya
dalam tataran lafaz namun dalam prilaku kita sehari-hari. Zikir tak hanya dalam
keadaan kita sedang sholat saja, namun kapanpun dan di manapun kita berada.
Zikir dapat kita lakukan bahkan dalam kondisi, duduk, berdiri maupun sedang
berjalan. Subahanallah, Maha suci
Allah dengan segala ketentuan-NYA.
Sebagaimana
firman Allah mengatakan bahwa:
“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.” (Qs.
Ar.Rad: 28 ).
Dengan memperbanyak zikir kepada maka
Allah akan memberikan ketentraman hati. Rasa nyaman dan kebahagiaan yang tak
akan terbeli dengan apapun. Orang-orang seperti ini akan senantiasa tawadhu,
rendah hati, dan jauh dari hal-hal yang membuatnya lalai mengingat Allah.
Zikir dapat
membawa manusia ke alam berfikir tentang kekuasaan Allah. Mengapa Allah
menciptakan semua ini. Mengapa Allah memberikan ujian dan cobaan. Mengapa Allah
memberikan kesenangan dan kesedihan. Mengapa Allah menghidupkan dan mematikan.
Mengapa Allah mengecilkan dan membesarkan. Banyak pertanyaan mengapa lainnya
yang dapat kita urai dan kita ungkap. Allahuakbar,
Maha Besar Allah yang telah menciptakan apapun di dunia ini. Jadi, buat apa
kita menjadikan hidup kita resah terus menerus, sementara kita sudah tahu bahwa
segala sesuatu telah diatur untuk menguji seorang hamba yang mengaku beriman
kepada-NYA.
Menanamkan Sifat Tawakal
Selain
bersyukur dan senantiasa berzikir kepada Allah atas apa yang diberikannya
kepada kita, salah satu sifat yang dapat menentramkan kita adalah dengan
bertawakal atau berserah diri kepada Allah. Dengan sifat ini kita tak perlu
gelisah dan resah, jika segala sesuatu sudah kita lakukan dengan maksimal.
Manusia yang memiliki sifat tawakal, dia yakin betul bahwa pemberian Allah
adalah pemberian yang terbaik. Keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik.
Meski jauh dari apa yang dia harapkan. Dia akan tetap memperbaiki apa yang
kurang dalam setiap ikhtiarnya. Ketawakalan kepada Allah akan menjauhkannya
dari sifat keluh dan kesah. Wallahu a’lam
bi Shawab.
Tulisan Ini di Muat di Buletin Masjid Al-Fatah Unisma, Edisi Agustus 2011, Vol 3, NO.1
MEMIMPIKAN PEMIMPIN INDONESIA YANG BERKARAKTER KEISLAMAN
Oleh Elvira Suryani, S.IP
Aku
akan bangga, jika negeri ini di pimpin oleh seorang yang memiliki sosok seperti
khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Negeri yang penuh dengan kejayaan, tak ada lagi
orang yang minta-minta, tak ada lagi pengemis, dan orang miskin.
Bahkan
di masa pemerintahan beliau, zakatpun sudah di ekspor ke Negara lain, karena
sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat di negeri yang beliau pimpin. Subahanallah, betapa indahnya hidup,
ketika syari’at tidak sekedar retorika belaka, tidak hanya sekedar simbol saja,
namun dijadikan pondasi dan aktualisasi dalam menjalankan kehidupan bernegara.
Jika
dibanding dengan Indonesia saat ini , sangat jauh sekali dari hal tersebut,
meski banyak penduduk yang beragama Islam, namun kita jauh sekali dari
nilai-nilai keislaman tersebut. Power seorang pemimpin hanyalah terlihat dari
batasan fisik, bukan akhlak dan kredibilitas yang mampu mengayomi masyarakat.
Uang menjadi prioritas penentu dalam
merebut kekuasaan, bukan akhlak.
Miris
sekali melihat kondisi negari yang carut-marut ini,masyarakat sekarang pun
sudah apatis terhadap pemimpin. Siapapun pemimpinnya semua tetap akan di hujat,
di diskreditkan, bahkan dijatuhkan oleh lawan politiknya.
Aku
rindu, rindu sekali Indonesia yang berkarakter Islam, baik rakyat maupun
penguasa. Jika hal ini ditanamkan sejak dini kepada generasi, bukan hal yang
mustahil, 5 tahun ke depan Indonesia bisa bangkit kembali. Beragama dijadikan
pegangan dalam melaksanakan berbagai macam aktivitas kebangsaan dan kemasyarakatan.
Bukan memisahkan antara agama dan Negara seperti yang dilakukan oleh salah satu
founding father (pendiri bangsa) Indonesia
yakni Ir.Soekarno, pengkotak-kotakan keyakinan dengan pelaksanaannya lah yang
pada akhirnya kita tidak mampu mencapai tujuan yang kita inginkan. Karena
setiap pedoman dasar yang kita punya tidak kita gunakan dalam setiap
aktualisasinya.
Jika
hal ini sudah tertanam dalam masyarakat dan penguasa, maka hukum sebagai payung
(pelindung) masyarakat tidak akan mampu
lagi di tembus oleh para mafia hukum. Karena karakter keislaman sudah masuk
dalam diri para penegak hukum yang menyadari bahwa ada pertanggungjawaban besar
di negeri keabadian kelak ketika mereka menyelewengkan hukum yang sudah dibuat.
Kemudian negeri ini akan bebas dari kemiskinan, karena setiap masyarakat sadar dan memahami bahwa memberi adalah bagian dalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan dalam kepribadiannya sebagai seorang yang beragama.
Kemudian negeri ini akan bebas dari kemiskinan, karena setiap masyarakat sadar dan memahami bahwa memberi adalah bagian dalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan dalam kepribadiannya sebagai seorang yang beragama.
Banyak
hal lain lagi yang bisa dimunculkan dengan tumbuhnya kepribadian-kepriadian
yang berkarakter Islam, seperti; masyarakat yang taat hukum, masyarakat yang
bersih, masyarakat yang dermawan, masyarakat yang taat kepada pemimpinnya dan
sebagainya.
DEMOKRASI VS LIBERALISASI
Demokrasi VS Liberalisasi
Oleh Elvira Suryani, S.IP
Abstract
A democracy is a political system and ideology in which the
people or community are made found from western. Democracy is an encouraging
development of political equality and under conditions of political freedom,
it’s mind a government of the people, by the people, for the people, either
directly or through representatives.
Liberalism comes from the word free.The
Freedom to say their opinion for every
citizen. While Freedoom is not free. The words is famous in United State.
Democracy need the freedoom for saying the opinion about politic, economic and
ect.
Keywords: Democracy, Liberalism, government, people.
Demokrasi
adalah sistem politik ideal dan ideologi yang berasal dari Barat. Demokrasi
menyiratkan arti kekuasaan politik atau pemerintahan yang dijalankan oleh
rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat, warga masyarakat yang telah terkonsep
sebagai warga negara.
Sedangkan
Liberalisme berasal dari kata bebas. Bebas disini adalah adalah untuk
menyampaikan pendapat bagi setiap warga negate. Kebebasan bukanlah bebas
sepenuhnya. Itulah ungkapan yang terkenal di Amerika Serikat. Demokrasi memang
membutuhkan demokrasi dalam kegiatan politik, ekonomi dan lainnya.
Simak
Baca
secara fonetik
Pendahuluan
Manusia hidup senantiasa
membutuhkan kebebasan dalam bersikap dan bertindak. Namun, apakah kebebasan
tersebut menjadikan penghalang bagi orang lain atau pengganggu ketentraman
orang lain?. Hal inilah yang merupakan pertanyaan buat kita semua.
Menurut Pemaparan Anas
Urbaningrum tentang kebebasan dan Demokrasi dalam bukunya (Melamar Demokrasi; 2004) mengatakan bahwa ada tiga hal yang
menonjol dalam upaya membangun demokrasi di Indonesia. Pertama, penggunaan ruang kebebasan secara berlebihan. Kedua, Egoisme Politik dengan
mengentalkan egoisme kelompok. Ketiga, Tumpulnya sensitivitas Politik Pemerintah.
Sejak bergulirnya era reformasi dengan digulingkannya pemerintahan Soeharto pada tahun 1998. Indonesia telah mengkhultuskan diri sebagai Negara demokrasi dengan ada nya reformasi diberbagai bidang. Media bebas mengekspos apapun. Banyaknya demonstrasi di jalan-jalan. Manusia seperti jerami yang gampang tersulut amarah, jika terganggu sedikit haknya. Hal ini sudah terbukti dengan pernyataan Anas pada paragraph sebelumnnya.
Sejak bergulirnya era reformasi dengan digulingkannya pemerintahan Soeharto pada tahun 1998. Indonesia telah mengkhultuskan diri sebagai Negara demokrasi dengan ada nya reformasi diberbagai bidang. Media bebas mengekspos apapun. Banyaknya demonstrasi di jalan-jalan. Manusia seperti jerami yang gampang tersulut amarah, jika terganggu sedikit haknya. Hal ini sudah terbukti dengan pernyataan Anas pada paragraph sebelumnnya.
Salah satu tokoh reformis
Indonesia adalah Amin Rais. Reformasi (Perubahan) tersebut telah memakan korban
dengan adanya kerusuhan pada tanggal 19 Mei yang dikenal dengan nama tragedi
semanggi. Pergantian kepemimpinan otoriter sudah terlaksana. Bahkan ada
beberapa kali kepemimpinan yang hanya terjadi satu kali menjabat saja.
Jika menilik era
soekarno, soeharto, BJ, Habibie, Gusdur, Mega Wati, dan Susilo Bambang Yudhono,
pastilah Soeharto yang unggul dalam mempertahankan tampuk pemerintahannya. Hal
ini sama dengan kondisi yang kita lihat diberbagai wilayah arab yang bergejolak
saat ini. Dari Libya yang menjabat adalah moamar Kadhafi, sedangkan di Mesir
Presiden Hosni Mubarok. Baru-baru ini berlanjut ke Tunisia. Suara rakyat yang
bersatu mampu menggulingkan pemerintahan-pemerintahan otoriter tersebut.
Kondisi tiga Negara Timur
Tengah yang ada saat ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi yang di
alami pada waktu pemerintahan Soeharto dulu. Pemilihan Presiden yang
mengatasnamakan demokrasi, namun terkesan formalitas belaka. Ada satu partai politik
yang senantiasa bertahan terus-menerus, meski mengusung Luber (Langsung, umum,
bebas, rahasia) untuk pemilihan presiden atau kepala daerah. Demokrasi yang
diciptakan hanyalah sebagai tameng untuk melanggengkan kekuasaan.
Para elit politik dan
masyarakat yang anti pemerintah melakukan pemberontakan dengan menggulingkan
pemerintahan Negara. Presiden yang menjabat hampir 30 tahun lebih dipaksa untuk
turun oleh masyarakat anti pemerintah.
Inti dari pemberontakan
yang dilakukan oleh berbagai Negara baik Indonesia dan Negara-negara yang ada
di Timur Tengah adalah menuntut adanya Demokrasi. Demokrasi seperti apakah yang
diinginkan oleh Negara bergejolak tersebut. Demokrasi yang mengutamakan suara
rakyatkah atau lebih mirip dengan demokrasi yang menyanjung tinggi liberalisasi
atas kepentingan pribadi atau golongan?.
Sejarah Demokrasi
Demokrasi berasal dari Yunai Kuno yang dipakai
di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Istilah
demokrasi berasal dari dua kata yakni: “ Demos dan Kratos atau cratein”. Demos
berarti rakyat, dan kratos/cratein berarti pemerintahan. Jadi secara
keseluruhan dapat diartikan bahwa Demokrasi adalah sebagai pemerintahan rakyat,
atau bahasa tenarnya adalah Pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat.
Konsep demokrasi semula lahir dari pemikiran mengenai
hubungan negara dan hukum di Yunani-Kuno dan dipraktekkan dalam hidup bernegara
antara Abad ke-IV sebelum Masehi sampai Abad ke-VI Masehi. Pada waktu itu
dilihat dari pelaksanaan demokrasi yang dipraktekkan secara langsung (direct
democracy), artinya hak rakyat untuk membuat keputusan-keputusan politik
dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara yang bertindak berdasarkan
prosedur mayoritas. Dalam perkembangannya telah
mengalami dua kali bentuk transformasi demokrasi, yakni transformasi demokrasi
negara kota di Yunani dan Romawi-Kuno pada Abad ke-V sebelum Masehi, serta
beberapa negara kota di Italia pada masa abad pertengahan, dan transformasi
yang terjadi dari demokrasi negara kota menjadi demokrasi kawasan bangsa,
negara, atau negara nasional yang luas (Dahl, 1992: 3-4).
Demokrasi menyiratkan arti kekuasaan politik atau pemerintahan yang dijalankan oleh rakyat, dari rakyat dan untuk rakyat (Warren, 1963: 2), warga masyarakat telah terkonsep sebagai warga negara. Dengan demikian dilihat dari arti kata asalnya, demokrasi mengandung arti pemerintahan oleh rakyat. Sekalipun sejelas itu arti istilah demokrasi menurut bunyi kata-kata asalnya, akan tetapi dalam praktek demokrasi itu dipahami dan dijalankan secara berbeda-beda.
Kunci dari demokrasi
terletak pada adanya hubungan kuat antara rakyat dan pemerintahan. Bahkan
pemerintahan dari rakyat , oleh rakyat dan kembali untuk rakyat diharapkan
sesuai dengan kebutuhan rakyat yang mengangkat para wakilnya untuk menjalankan
roda pemerintahan sesuai dengan aspirasi rakyat. Dalam roda pemerintahan tidak
bisa dipungkiri kekuasaan selalu memegang peranan dalam mempengaruhi rakyat
yang akan memilih para wakilnya. Baik secara langsung ataupun secara
perwakilan. Politik menjadi jembatan untuk meraih kekuasaan tersebut.
Dalam perjalanannya.
Demokrasi merupakan sebuah system yang banyak dipakai oleh pemerintahan barat dan
berkembang ke Negara-negara Timur Tengah dan Asia, termasuk Indonesia salah
satunya. Penerapan demokrasi tentunya memerlukan waktu, karna kultur budaya,
letak geografis sebuah Negara sangat mempengaruhi penerapan demokrasi ini.
Demokrasi adalah
sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas
oleh wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam
pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan
diselenggarakan dalam suasana terjaminnya kebebasan politik (Henry B. Mayo,
1960: 70). Dengan kata lain demokrasi adalah sistem pemerintahan yang dibentuk
melalui pemilihan umum untuk mengatur kehidupan bersama berdasarkan aturan
hukum yang berpihak pada rakyat banyak. Harris G. Warrant dalam Our
Democracy at Work (1963: 2), memberikan rumusan pengertian demokrasi
sebagai, “a government of the people, by the people, for the people”.
Bryan A. Garner dalam Black’s Law Dictionary (1999: 444), memberikan
arti demokrasi sebagai “government by the people, either directly or through
representatives”.
Dari pengertian Demokrasi oleh para ahli di atas dapat kita
pahami bahwa Demokrasi memberikan dampak
terhadap kehidupan bersama dengan adanya hak dan kewajiban masyarakat terhadap politiknya dalam bernegara. Dikemukakan oleh
Robert A. Dahl dalam On Democracy (1998: 38), bahwa “democracy
provides opportunities for effective participation; equality in voting; gaining
enlightened understanding; exercising final control over the agenda; inclusion
of adults”. Artinya, bahwa dengan demokrasi akan memberikan kesempatan
kepada rakyat untuk partisipasi yang efektif; persamaan dalam memberikan suara;
mendapatkan pemahaman yang jernih; melaksanakan pengawasan akhir terhadap
agenda; dan pencakupan warga dewasa. Konsekuensi demokrasi tersebut akan memberikan
standar ukuran umum dalam melihat suatu negara sebagai negara demokrasi. Dengan
kata lain, ketika kesempatan-kesempatan yang merupakan konsekuensi dari
standar ukuran umum negara demokrasi tersebut tidak dijalankan, maka negara
tersebut tidak dapat dikualifikasikan sebagai negara demokratis.
Menurut Juan J.
Linz dalam buku “Menjauhi Demokrasi Kaum
Penjahat” menguraikan bahwa Demokrasi membutuhkan liberalisasi, namun merupakan
suatu konsep yang lebih luas dan lebih bersifat politis. Demokratisasi menuntut
persaingan terbuka untuk mendapatkan hak menguasai pemerintahan dan ini pada
gilirannya menuntut diselenggarakannya pemilihan umum.
Bahkan Juan J. Linz dan Alfred Stepan pun mengatakan bahwa
kriteria demokrasi adalah;
Kebebasan
hukum untuk merumuskan dan mendukung, alternative-alternatif politik dengan hak yang sesuai untuk berserikat,
bebas berbicara, dan kebebasan-kebebasan dasar lain bagi setiap orang;
persaingan yang bebas dan antikekerasan di antara para pemimpim dengan
keabsahan periodik bagi mereka untuk memegang pemerintahan; dimasukkannya
seluruh jabatan politik yang efektif di dalam proses demokrasi dan hak untuk
berperan serta bagi semua anggota masyarakat politik, apa pun pilihan mereka.
Secara praktis, ini berarti kebebasan untuk mendirikan
partai-partai politik dan menyenggarakan pemilihan umum yang bebas dan jujur
pada jangka waktu tertentu tanpa menyingkirkan jabatan politis efektif apa pun
dari akuntabilitas pemilihan yang dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung.
Pernyataan di atas pun telah dilakukan oleh
Indonesia yang tadi nya hanya tiga partai pada era soeharto. Sekarang sudah
multi partai yakni berjumlah sebanyak 40-an partai yang terlibat dalam pemilu
Pada
kenyataannya pemilihan umum langsung yang mengatasnamakan demokrasi
liberalisasi justru menimbulkan berbagai macam konflik baik di pusat maupun di
daerah.
Menurut Direktur Jendral
Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangol) Deddagrei, Tanri Bali Lamo yang dimuat
di harian Buana Sumsel menyebutkan bahwa data dari 486 Pilkada yang digelar
dari tahun 2005-2008; hampir separuhnya bermasalah. Sebanyak 22 merupakan
pemilihan Gubenur dan Wakil Gubenur.
Sebagian besar konflik
Pilkada bermasalah pada persoalan perhitngan suara,masalah daftar pemilih tetap
dan sebagian lain ketidaknetralan KPUD ( Komisi Pemilihan Umum Daerah).
Liberalisasi
Berbicara
liberalisasi maka tidak lepas dari kata liberal yang berarti kebebasan dalam
menyampaikan pendapat, bebas berpolitik, dan kesempatan yang luas untuk
berkembang dan maju. Seperti yang disampaikan pada paragraph sebelumnya dalam
pembahasan demokrasi yang mengatakan bahwa demokrasi memerlukan kebebasan yang
bertumpu kepada kekuatan rakyat. Dalam hal ini rakyatlah yang menentukan siapa
pemimpinnya, dan bagaimana pola pemerintahan yang merekan inginkan. Suara
rakyat dalam era demokrasi sangat didengar.
Menikmati kebebasan yang terjadi mulai dari demokrasi
terpimpin sampai demokrasi pancasila masih rancu bahkan kebablasan. Semua ingin
didengar, semua berhak menuntuk hak. Tak perduli lagi dengan amanah menunaikan
kewajiban.
Apalagi sejak era reformasi, manusia sangat gampang
tersulut. Mudah memberontak kepada pemerintah. Jika dibiarkan bukan tidak
mungkin hal ini sangat mengganggu kestabilan pemerintahan sebuah Negara.
Keamanan
menjadi taruhan dengan sangat terbukanya kran demokrasi yang
menganggung-agungkan kebebasan.
Buktinya sangat banyak kita temui di negeri ini.
Permasalahan seperti bola tenis yang di lempar ke dalam sebuah kolam, tenggelam
dan muncul. Tak ada kasus yang tuntas. Hal yang banyak muncul adalah tuntutan
dan tuntutan.
Indonesia
yang menjujung tinggi demokrasi bukan lagi mengacu pada demokrasi pancasila,
namun sudah mengarah kepada liberalisasi.
Sejak pemilihan umum secara langsung, pada era pemerintahan
gusdur sampai Susilo Bambang Yudono, rentan konflik dan banyak menghamburkan
uang Negara. Sistem pemilihan umum secara langsung menjadi ajang adu kekuatan
politik dan perebutan kekuasaan para elit politik. Baik di pusat maupun di
daerah. Bahkan tidak jarang kita dengar di
media massa dan kita lihat di media televisi, para caleg yang gagal
untuk merebut kekuasaan menjadi gila, banyak hutang, bahkan sampai bunuh diri.
Hal ini disebabkan para caleg yang sudah banyak mengeluarkan
uang untuk kegiatan kampanye sampai menggadaikan asset yang dimilikinya demi
mendapatkan kursi di pemerintahan.
Dampak
yang dimunculkan oleh liberalisasi yang kita anut sungguh mencengangkan. Tidak
hanya di bidang politik, namun juga dibidang lainnya yang meningkatkan jumlah
kejahatan serta tingkat orang stress di
Indonesia. Liberalisasi yang bebas nilai dan norma. Menghalalkan segala cara
demi kekuaasaan.
Memurnikan Demokrasi dan Liberalisasi.
Dengan berbagai dampak yang dimunculkan oleh demokrasi yang
menjujung tinggi liberalisasi sekiranya perlu di kaji ulang penerapannya di
Indonesia. Jika Kita bandingkan dengan masa pemerintahan orde Baru, model yang
masih tepat untuk dilaksanakan bagi Negara Indonesia yang memiliki ideologi
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Sebagai Negara yang beradab dan menjunjung tinggi pancasila,
etika perlu di terjemahkan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak
hanya sebagai simbolitas belaka, namun masuk dan menjadi darah daging bangsa
Indonesia, baik pemerintah, para elit politik, dan Masyarakat.
Masyarakat dibutuhkan
betul-betul sebagai pengendali sistem yang telah diterapkan oleh Pemerintah.
Suara rakyat perlu didengar dan di ambil kebijakan yang mampu mengakomodir
kepentingan bersama. Bukan rakyat semu yang dijadikan sebagai dagelan politik
untuk kepentingan penguasa.
Suara rakyat dijadikan sebagai ramuan ampuh untuk meraup
keuntungan sebesar-besarnya. Demokrasi
sebagai pelayanan utama kepada rakyat justru bertolak belakang dengan rakyatlah
sebagai abdi penguasa.
Patutlah sekiranya Demokrasi dan Liberalisasi dikembalikan
sebagai makna yang lebih manusiawi dan bermartabat. Memberikan hak politik
tanpa mengganggu hak orang lain. Berbuat tanpa mencelakai orang lain.
Liberalisasi disini dimaksukan jika manusia mampu mengendalikan sesuatu sesuai
dengan hati nurani yang memanusiakan manusia itu sendiri sebagai makhluk sosial
yang diberikan keistimewaan oleh Tuhannya.
Etika
merupakan salah satu kunci untuk memurnikan makna Demokrasi dan Liberalisasi
yang sesuai dengan hati nurani rakyat yang ingin hidup bersama dalam
kondisi aman dan tentaram.
Penutup
Liberalisasi yang terkandung dalam makna demokrasi yakni
dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Rakyat butuh kebebasan hidup tanpa
mengganggu yang lainnya. Rakyat butuh hak untuk berpolitik tanpa mematahkan
lawan dengan cara yang culas. Rakyat butuh hak mengeluarkan pendapat tanpa
perlu di jegal. Rakyat perlu penguasa yang amanah dalam menunaikan
aspirasi-aspirasi nya tanpa disogok untuk mendapatkan dukungan.
Itulah
perlunya Demokrasi dan Liberasilasi yang sesuai dengan hati nurani yang murni
semata-mata untuk pengabdian kepada masyarakat.
Kejujuran diperlukan untuk menerapkan demokrasi yang
sesungguhnya. Pembelajaran politik yang menjunjung tinggi etika perlu
diterapkan agar mampu menciptakan demokrasi dan liberalisasi yang tetap
mengedepankan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.
Tinjauan Pustaka
Beetham, David, (ed.),
1994, Defining and Measuring Democracy, London-Thousand Oaks-New Delhi:
Sage Publications.
Budiardjo, Miriam, 1983, Dasar-dasar
Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia.
Craig, Gary, and
Marjorie Mayo, (ed.), 1995, Community Empowerment A Reader in
Participation and Development, London & New Jersy: Zed Books Ltd.
Dahl, Robert A.,
1998, On Democracy, USA; Yale University Press.
_____, 1992, terjemah A Rahman Zainuddin, Demokrasi
dan Para Pengkritiknya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
_____, 2001, terjemah A Rahman Zainuddin, Perihal
Demokrasi: Menjelajahi Teori dan Praktek Secara Singkat, Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia.
Huntington, Samuel P,
1995, terjemah Asril Marjohan, Gelombang Demokratisasi Ketiga, Jakarta:
Pustaka Utama Grafiti.
Linz, Juan J. et.al,2001, Menjauhi Demokrasi Kaum Penjahat (Belajar
dari Kekeliruan negara-negara Lain), Bandung:Pustaka Mizan.
Goesniadhie, Kusnu.S, (
http://kgsc.wordpress.com/demokrasi-dalam-konsep-dan-praktek/
Harian Buana Sumsel 15
Januari 2010
Tulisan ini dimuat di Jurnal KYBERNAN, Vol 1,No,1 , Maret 2011
Tulisan ini dimuat di Jurnal KYBERNAN, Vol 1,No,1 , Maret 2011
Langganan:
Postingan (Atom)