Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2015

BELAJAR DARI PENGALAMAN PEMBANGUNAN INDONESIA





(Ulasan Pemikiran Widjojo Nitisasto )



 (Ilustrasi Gambar:wallpaperwide.com)

Uraian kompas tentang peluncuran buku “Pengalaman Pembangunan Indonesia, Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisasto” mengajak kita untuk berkaca kepada sejarah, dimana Indonesia pernah menikmati kejayaan masa silam dengan tingkat perekonomian yang membaik sampai-sampai produksi ekspor yang tinggi pada era 80-an. 

Menurut ekonom senior Emil Salim menjelaskan tentang pemikiran Widjojo bahwa sebagai arsitek perekonomian Indonesia masa dulu masih relevan untuk dijadikan pelajaran di masa sekarang.

Penentuan skala prioritas yang disepakati bersama dan dijalankan dengan konsisten, efesiensi di semua pengambil kebijakan serta keteguhan mencapai tujuan pembangunan untuk rakyat adalah sebagian dari pemikiran senior Widjojo yang masih bisa dipakai untuk menjawab tantangan persoalan bangsa kita saat ini.
Bahkan Ekonom M. Arsyad Anwar menambahkan, Widjojo mengidentifikasikan penyebab kegagalan Negara berkembang antara lain: 


  •   para pemimpin gagal menetapkan prioritas secara konsisten
  • para pemimpin juga tidak bisa mencapai kesepakatan diantara mereka sendiri tentang skala prioritas yang diperlukan
  • Kalaupun berhasil menyepakati skala prioritas, mereka tidak mau konsisten .
M. Chatib Basri juga menilai Widjojo juga merupakan orang yang tidak mempercayai mekanisme pasar sepenuhnya (Planing throught the market, menggunakan pasar sebagai instrument). 

Tidak hanya para pakar-pakar yang telah mumpuni dibidangnya yang menyetujui pemikiran dari Senior Widjojo, namun wakil presiden Indonesia Prof. DR. Budiono pun mengaku pernah belajar dari beliau.
Kata-kata sang Widjojo yang masih terpakem oleh Budiono tentang kepemimpinan, beliau mengatakan seorang pemimpin harus siap dikritik, dicerca, tetapi terus bekerja. Widjojo juga mencermati demografi ketika akan merencanakan dan membangun perekonomian Indonesia dengan cermat.

Seorang Widjojo memiliki pandangan yang tidak berbeda jauh dari para pendiri Republik Indonesia ini, yakni mempertemukan tujuan keadilan dengan memakmurkan dan pemerataan dengan pertumbuhan. “Cita-cita itu tumbuh dari dalam, bukan dicangkok dari luar”. 

Sudah sepantasnya para pemimpin negeri ini mengkaji ulang kembali, pemikiran-pemikiran para pendahulu yang masih relevan untuk perubahan negeri ini. Kita memang tidak bisa lepas dari sejarah. Karena dengan sejarah manusia bisa belajar dari apa yang sudah terjadi. Sesuatu yang baik dapat dikembangkan dan peninggalan sejarah yang buruk dapat dijadikan pelajaran untuk perbaikan bangsa ini.

Dikutip dari artikel kompas (edisi, Jum’at 15 januari 2010, Pemikiran Widjojo masih tetap Relevan)

Senin, 02 Februari 2015

Mengevaluasi Resolusi


Sejauh mana kaki melangkah, tak bijak rasanya jika jejak -jejak itu tak terluliskan untuk mengabadikan setiap kenangan. Baik itu kenangan yang buruk ataupun menyenangkan. Semua menjadi bagian dalam sejarah kehidupan kita. banyaknya cita-cita, harapan dan keinginan yang telah tergoreskan ditahun lalupun, jika dengan menuliskannya kita akan tau kelebihan dan kekurangan dari cita-cita, harapan dan keinginan kita tersebut dengan membuka lembaran-lembaran tulisan yang telah berlalu.


Saat inipun telah berganti tahun, mungkin ada baiknya kita kroscek kembali. Dari berbagai resolusi yang telah kita buat, berapa yang sudah tercapai dan berapa yang belum. Apa yang menjadi kendala atau hambatan sehingga kita belum mampu mewujudkannya. Faktor apa saja yang berpengaruh terhadap pencapaian resolusi tersebut. Apakah internal atau eksternal. Tak mengapa kita berulang-ulang mengevaluasinya agar apa yang menjadi tujuan kita dalam hidup menjadi lebih baik. Bukankah hidup itu juga perlu koreksi agar kita belajar dari kekeliruan yang kita lakukan.


Faktor  Internal 


Faktor Internal bisa saja berasal dari kita sendiri yang memang kurang memiliki niat yang kuat untuk meraihnya, atau bisa saja kemalasan yang kita budidayakan sehingga kita belum mendapatkan  apa yang kita inginkan. Bisa juga masalah pengelolaan waktu yang kurang bijak sehingga hal-hal yang seharusnya menjadi prioritas malah terabaikan bahkan menjadi nomor urut kesekian. Banyak di antara kita yang sering berjanji untuk konsisten dengan agenda-agenda yang kita tuliskan, namun kita sendiri pula yang melanggarnya.

Mungkin termasuk saya yang menuliskan hal ini pun juga pernah mengalami hal tersebut. Agenda kegiatan yang sudah dirancang dengan baik, bisa berantakan dengan sesuatu hal yang baru yang tidak masuk skala prioritas kita tadinya. Kita sudah menentukan langkah-langkah yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan dan cita-cita kita. Bisa rusak dengan agenda baru yang tidak masuk daftar list kita.

Apalagi seseorang yang menyukai sesuatu yang baru, selalu tergiur untuk mengikutinya sehingga melupakan sejenak rencana awal yang sudah dirancangnya dengan matang. Bukan berniat untuk melupakan seutuhnya tidak, namun konsentrasi yang sudah terpecah dengan hal-hal yang baru, tentunya akan mengurangi fokus kita terhadap rencana awal yang sudah kita siapkan.

Begitulah terkadang manusia, fokus itu ternyata penting untuk mengukur sejauh mana keberhasilan kita untuk meraih cita-cita yang sudah kita rancang, atau katakalah resolusi yang senantiasa dibuat oleh orang-orang setiap tahunnya. Baik kaum bisnisman, para pendidik, pedagang ataupun diri pribadi yang punya targetan-targetan tertentu untuk merubah kehidupan diri sendiri menjadi lebih baik.

Faktor Eksternal

Selain faktor internal, faktor eksternal dari diri kita ikut mempengaruhi resolusi-resolusi yang telah kita bangun, salah satunya adalah lingkungan sekitar kita. Bayangkan jika kita bermimpi menjadi seorang penulis, dan punya keinginan untuk menerbitkan buku. Kemudian kita sendiri memiliki motivasi yang kurang dari diri sendiri. Lalu ditambah dengan lingkungan yang bukan kalangan penulis, hal ini sedikit banyak tentunya akan mempengaruhi kita dalam mengusahakan apa yang kita inginkan. Menulis dengan orang yang memilik hobi yang sama tentunya akan lebih asyik ketimbang menulis sendiri. Semangatnya tentu akan berbeda. Kita pun juga termotivasi untuk mewujudkannya dengan pressure dari lingkungan sekitar. Presure yang memaksa diri kita untuk mewujudkan tulisan-tulisan kita. Begitu juga dengan hal lainnya, apa yang kita mau dalam hidup ini, lingkungan merupakan pengaruh yang cukup besar pula dalam mewujudkan resolusi-resolusi yang kita bangun tersebut.

Membangun Energi Positif

Sedikit mengutip ungkapan salah seorang motivator (Iphho Santosa Penulis buku “7 Keajaiban Rezeki”) mengatakan bahwa ada tiga faktor merusak keberhasilan seseorang yakni; 1) tidak memiliki impian. 2) impian terlalu kecil sehingga tidak memotivasi seseorang untuk maju. 3)  Tidak menjiwai impiannya  tersebut.
Motivator tersebut pun mengatakan jika ingin berhasil dalam mewujudkan sesuatu bangunlah diri kita sendiri menjadi pribadi yang bersemangat, baik pakaian, gaya rambut, cara berjalan. Hal tersebut akan mempengaruhi gerak seseorang dalam mencapai tujuannya.
Kemudian lingkungan pun juga diperlukan lingkungan-lingkungan yang dapat membangkitkan motivasi. Berita-berita yang positif, musik yang kita dengarpun juga musik yang menumbuhkan motivasi bukan membuat manusia loyo. Begitu juga ketika mencari hiburan filmpun juga diperlukan film-film yang dapat membangkitkan semangat diri kita sendiri.

Energi-energi postif yang mengelilingi manusia akan mempengaruhi gerak langkahnya dalam mencapai impiannya atau yang sering kita sebut dengan resolusi. Begitu juga sebaliknya, jika lebih banyak energy-energi negative yang mengitari kehidupannya, maka hal itu akan menghambat keberhasilannya dalam meraih resolusinya.

Mengutip hadist Rasulullah saw: “ Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Begitu pulalah perumpamaan diri kita yang ingin berhasil dalam meraih resolusi yang sudah kita tuliskan. Orang-orang yang ada disekitar kita merupakan faktor pendukung dalam menciptakan mimpi-mimpi kita. Sedikit-banyaknya pasti memberikan efek kepada kita.

Keberhasilan

Ada sebagian orang mungkin berkata bahwa keberhasilan yang ia peroleh saat ini, tak lain adalah karena jerih payah dan usahanya sendiri. Faktor pendorong utama dalam dirinya, mungkin benar adanya, coba kita perhatikan keseharian dia, dengan siapakah ia bergaul, bagaimana lingkungannya, siapakah orang yang menginspirasinya. Dan hal terpenting juga bagaimana spritualitasnya.
Kita akan mengatakan bahwa keberhasilan tersebut terwujud dari berbagai macam dominasi motivasi yang mempengaruhinya, sehingga mampu bangkit, bergerak, dan melakukan lompatan yang tinggi.

Kemudian kita bisa lihat juga sejauh mana usaha orang tersebut mewujudkan keberhasilannya tersebut. Ada para ilmuwan yang bereksperimen puluhan tahun, ketika di tahun ke 10 baru ia berhasil dalam meciptakan sesuatu. Ada juga yang jatuh bangun berkali-kali dalam membangun wirausaha. Ketika bangkrut, ia bangun lagi, sampai beberapa kali, sampai ia menghasilkan kesuksesan dalam usahanya.

Menurut cerita dari salah seorang teman yang mengatakan bahwa orang China dalam menjalankan usaha, biasanya mengukur waktu keberhasilan tersebut sampai 5 tahun. Setelah lima tahun usaha yang ia jalankan menunjukkan keberhasilan kah atau tidak, barulah mereka memutuskan untuk alih profesi ke bidang lainnya.

Keberhasilan jalannya memang membutuhkan waktu yang panjang, perlu proses, kegigihan, ketekunan, kerja keras, dan strategi yang jitu untuk mewujudkan resolusi-resolusi yang kita bangun.

Saya menuliskan ini untuk perenungan jejak-jejak langkah pribadi yang telah saya lewati. Merenungi sejauh mana langkah resolusi itu berjalan, sudah sampai dititik mana, stagnankah, atau berjalan merambat, atau sudah melalu dengan baik. Jika orang menuliskan resolusinya untuk setiap awal tahun, maka saya akan melanjutkan resolusi yang telah ada sebelumnya yang belum sempat terwujud pada tahun-tahun sebelumnya.


(revisi dari artikel saya beberapa tahun yang lalu)






Rabu, 28 Januari 2015

Tempat Untuk Pulang


Oleh Vira Surya

Kau tentu pernah kelelahan setelah sibuk seharian dengan aktivitas pekerjaan, belajar, kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Aktivitas yang membuat tubuh terasa letih, dan butuh tempat untuk beristirahat. Tempat di mana kita bisa melepaskan lelah pikiran, dan badan. Tempat yang memberikan kenyamanan dan tentunya terbebas dari hiruk pikuk keramaian dan sebagainya.

Ada sebagaian orang melepas lelah dengan pergi ke restoran untuk sekedar melepaskan rasa lapar dan melepas pandangan mata melihat aktivitas orang yang berlalu lalang. Ada juga yang melepas lelah dengan berjalan-jalan di mall untuk sekedar melihat –lihat, atau malah berbelanja barang-barang kesukaannya untuk sekedar menyenangkan hatinya. Ada juga yang menginap di hotel,melakukan traveling, dan masih banyak lagi aktivitas lain yang sesuai dengan keinginan dan versi kita masing-masing.

Setiap kita memiliki cara tersendiri untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan dari aktivitas yang membungkam kita sehari-hari. Namun pernah kah kita berfikir setelah kembali dari perjalanan yang kita lakukan, tempat-tempat yang kita kunjungi menurut kita dapat membuat kita rileks dan terbebas dari beban kejenuhan, stress, dan kepenatan tubuh?

Saya berani bilang, bahwa hal itu adalah sifatnya sementara. Karena setelah anda selesai dari kunjungan, atau traveling, kesegaran mungkin anda rasakan sesaat, dan bisa jadi itu hanya pada saat anda berada ditempat itu anda merasakan kenyamanan. Setelahnya kembali seperti biasa. Anda akan kembali menemui aktivitas yang sama, berulang, dan berulang, bahkan menuntut anda  untuk melakukan kerja yang lebih ekstra, baik pikiran dan tenaga.

Lantas apa yang sebenarnya tempat untuk pulang yang tak kan pernah membuat kita bosan? Tempat untuk pulang yang memberikan kenyamanan yang terus menerus terjaga dalam hati kita. Apapun yang kita lakukan senantiasa dengan rasa senang dan penuh kegembiraan, sehingga kita seakan-akan tak pernah kekurangan energi untuk melakukannya. Bahkan meskipun secara fisik kita terlihat lelah, namun hati kita senantiasa gembira melakukannya.

Anda mungkin penasaran, bahkan bertanya-tanya dan ada juga yang menduga-duga tempat pulang seperti apakah yang penulis maksud? Jika kita menemukan kesesakan hidup, kita tahu kemana muaranya. Seperti air yang mengalir ke muaranya dengan riak dan gelombang. Setelah ia menemui muaranya, riak dan gelombangpun menjadi tenang.

Masalah tak akan pernah selesai selama manusia masih hidup di dunia ini. Tak ada manusia yang tinggal di dunia lepas dari masalah. Hanya saja kadarnya yang berbeda-beda. Jika kita memiliki sikap dalam menghadapi, cara pandang, dan tahu muara untuk pulang, niscaya kita akan terus hidup dan tak akan pernah kehabisan amunisi.

Tempat kita untuk pulang aktivitas yang senantiasa dilakukan oleh umat Islam lima kali dalam sehari semalam. Bahkan Rasulullah SAW pun menjadikan sholat sebagai tempat beliau beristirahat sejenak dari segala macam aktivitas dunia.  Tempat dimana kita kembali kepada Allah untuk mengadukan berbagai macam urusan kita, permintaan dan bentuk doa-doa.

Inilah tempat kembali yang sesungguhnya, yakni Allah SWT dalam aktivitas ibadah ritual yang kita lakukan. Hal ini akan berbekas dalam kehidupan kita, jika hal ini kita lakukan dalam kondisi kyusuk dan menghamba kepada Allah SWT.


Coba anda bayangkan panas yang terik dan kondisi tubuh yang letih, ketika azan berkumandang, tubuh-tubuh diistirahatkan dengan air wudhu, melakukan ruku’  dan sujud. Dengan lafaz doa-doa yang kita lantunkan secara kyusuk, lalu mengaliri hati kita. Sehingga perbuatan tersebut mendatangkan kenyamanan dalam diri kita. Pikiran menjadi tenang, hati terasa lapang, tubuhpun terasa segar kembali. Inilah sesungguhnya tempat pulang sejatinya manusia, yakni Allah SWT. Allahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Rabu, 28 Desember 2011

DISKUSI PUBLIK

Diskusi Publik Menuju PILKADA Kab. Bekasi
“SMART LOCAL GOVERNMENT LEADER FOR GOOD INVESTMENT  POLICY”

Dialog Diskusi semalam (27/12) yang digagas oleh Institute Leadership Indonesia, masih memunculkan tanda tanya dibenak saya. Diskusi yang bertempat di @ Home Hotel, Plaza Metropolitan Tambun Bekasi ini membahas tentang sosialisasi PILKADA yang akan berlangsung pada bulan Maret mendatang. Dalam diskusi publik sedianya empat orang narasumber  yang akan berbicara pada malam itu, namun pada kenyataannya dua orang tidak hadir dengan alasan tertentu. Dari KPU dan Praktisi pendidikan.
Baiklah, tidak masalah yang terpenting bisa menghangatkan diskusi publik dengan kondisi peserta yang tadinya ditargetkan oleh panitia sebanyak 50 orang, yang hadir hanya sekitar 25 orang , termasuk saya dan 3 rekan dosen senior lainnya (dari akademisi).

Awal diskusi sebetulnya akan dibuka oleh Ketua KPU Kab. Bekasi yang akan mensosialisasikan mengenai PILKADA Kab. Bekasi Pada tahun 2012 nanti. Namun beliau tidak hadir, digantikan oleh sekrtaris beliau Bapak Rahmat Nuryono, M.Si. Itupun tidak begitu banyak membahas tentang kondisi pilkada Kab. Bekasi. Pemaparan yang singkat, namun menyisakan tanya yang perlu dijawab berkenaan dengan aturan-aturan PILKADA 2012 mendatang.

Sekitar 10 menit, moderator telah mempersilahkan pembicara pertama yang berasal dari Ketua Ombudsmen RI ( kinerjanya hampir mirip dengan KPK), yakni Bapak Danang Girindrawardana). Dalam paparan makalahnya, beliau menyampaikan pentingnya  memilih pemimpin yang berani merombak  persoalan-persoalan yang muncul dalam birokrasi pemerintahan.  Salah satunya, masalah yang masih mendarahdaging di kalangan elit pemerintahan “Maraknya KKN”. 

Ada beberapa kriteria yang beliau ditawarkan kepada calon kandidat  yakni sebanyak 6 kriteria yang nantinya menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih. 1) Memangkas birokrasi yang gemuk dalam pemerintahan, berarti memaksimalkan kinerja pegawai-pegawai yang handal. 2)Mengkampanyekan reformasi Birokrasi kepada kalayak, jika dalam masa pemerintahannya , birokrasi dianggap sudah tidak layak dan diperlukan pembaharuan. 3) Memperbaiki moral  para pegawainya yang dianggap bobrok dan mencemarkan pemerintahannya. 4) Memangkas Nepotisme dalam birokrasi.(5 mengontrol anggaran yang begitu besar dengan melakukan efesiensi, efesiensi di berbagai bidang.(6 memangkas korupsi yang masih menjadi darah daging dalam masyarakat. Setidaknya ada 6 point tersebut yang saya tangkap dalam pemaparan beliau. 

Disamping ada tantangan dari pembicara tersebut yang mengatakan “Dicari pemimpin yang berani populis.  Saat ini diperlukan pemimpin yang berfikir makro, bukan mikro. Permasalahan yang berkembang dimasyarakat sudah komplek dan tidak berkutat di daerahnya saja, namun sudah berkembang ke berbagai wilayah-wilayah lainnya, bahkan sampai pada taraf internasional.

Menurut penilaian Ketua Onbustman,  pemimpin saat ini jarang yang memiliki keberanian untuk memangkas birokrasi yang sudah dibuatnya sendiri. Hambatan-hambatan tersebut berasal dari janji-janji kampanye yang sudah diikrarkan di kontrak politik dengan beberapa partai koalisi, sehingga adanya rasa sungkan. Ketika birokrasi membutuhkan perombakan, hal itu jarang dilakukan.  Seperti halnya yang dilakukan oleh Susilo Bambang Yudoyono ketika mereformasi Birokasi bukan memangkas, menggemukkkan. Sehingga pos-pos anggaran bertambah, seiring dengan pertambahan elit-elit politik yang masuk di jajaran birokrasi.

Pembicara kedua berbicara masalah “Prespektif Investor terhadap Kebijakan Pemerintahan Daerah: (Vice President MGM:Ir. Purwanto, MT.). Ada slogan yang beliau sebutkan bahwa jika ingin mendapatkan lebih, kita harus berbuat lebih. Berbicara masalah investasi, beliau mengatakan bahwa terbagi ke dalam dua golonga; 1) Investasi dari leher ke atas, 2) Investasi dari leher  ke bawah. Investasi dari leher ke atas adalah investasi berupa pendidikan kepada masyarakat sehingga mereka bisa berfikir untuk meningkatkan taraf hidupnya. Berbeda halnya dengan investasi dari leher ke bawah yang lebih bersifat konsumtif, sehingga menumbuhkan masyarakat yang bergantung dan lebih berfikir instant. 

Permasalahan yang ada di pemerintahan kita adalah “Local Society” krisis kepercayaan masyarakat rendah. Pemberdayaan sumber daya penting untuk meningkatkan kualitas kinerja pemimpin.
Beliau sempat membahas pentingnya kriteria khusus pemimpin yang ditentukan oleh masyarakat. Seperti halnya di zaman Kerajaan Majapahit, ketika Patih Gajah Mada menjadi pemimimpin, memiliki 18 kriteria yang diajukan oleh masyarakat. Sayang sekali pemaparannya tidak terlalu panjang lebar, hanya sekilas saja, salah satu kriterianya adalah menjadi abdi masyarakat (pelayanan masyarakat/Abdidamika).

Dari pemamparan kedua pembicara tersebut berkembang ke arah diskusi. Masalah Diskusi yang diangkat lebih kepada kasus-kasus yang berkaitan dengan masalah dampak Investasi yang lebih cenderung kepada sektor industry dan jasa. Sektor pertanian yang menjadi lumbung pangan masyarakat tidak tersentuh sama sekali oleh para investor. Kemudian penekanan pada sanitasi yang menjadi sumber masalah dengan banyaknnya lahan-lahan perumahaan serta Industri-industri yang bermukim di wilayah kab. Bekasi. Dampak ini cukup signifikan terhadap pengelolaan sumber air bersih dan resapan air yang menjadi penyebab utama banjir.

Para audience diskusi publik terdiri dari organisasi kemasyarakat, pengusaha dan praktisi pendidikan. Salah satu organisasi kemasyarakatan yang hadir pada malam tersebut adalah HKTI (Himpunan Kelompok Tani Indonesia) Kab. Bekasi   yang mempertanyakan masalah investasi di bidang pertanian yang jarang dilirik oleh para investor. Kemudian para pengusaha yang bergerak di bidang Industri lebih mengeluhkan tentang kenaikan UMK (Upah minimum Kabupaten) , kekhawatiran mereka terhadap larinya para investor ke wilayah lain yang memiliki UMK lebih rendah di bandingkan Indonesia. Hal ini pun sudah terjadi di Negara RRC yang menaikkan Upah para pekerjanya sehingga kalangan investor dari luar banyak yang menarik perusahaan-perusahaan dari negeri China tersebut.
 
Isue pemekaran wilayah Kabupaten Bekasi, pendidikan khusus calon Bupati sempatkan di paparkan oleh para dosen Unisma Bekasi. Perlunya memunculkan pendidikan karakter bagi pemimpin agar lahirnya para pemimpin-pemimpin yang memiliki akhlak pancasilais.
Pemaparan dari diskusi Publik tersebut lebih bersifat pandangan-pandangan yang akan di kembangkan pada debat kandidat calon Bupati Kab. Bekasi bersama rakyat kabupaten Bekasi. Semoga wacana yang dibahas tidak hanya sekedar wacana yang mencuap kemudian menghilang begitu saja tanpa adanya solusi.


Selasa, 20 Desember 2011

KELUH KESAH YANG MENYENGSARAKAN


KELUH KESAH YANG MENYENGSARAKAN
Oleh Elvira Suryani



Apa yang senantiasa ditargetkan oleh manusia tak selamanya tercapai dengan tujuannya semula. Ingin mendapatkan pendapatan yang lebih, ingin cepat sampai, ingin perjalanan lancar, ingin jabatan naik. Banyak ingin-ingin lainnya yang telah direncakanan dengan matang, jadwal yang rapih dan ternyata tidak tidak sesuai dengan kehendak manusia. Apa yang terjadi adalah munculnya sifat keluh kesah, sebagaimana Allah berfirman:

Artinya:
Sesungguhnya,manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir.” (Qs.Al-Ma’rij: 19).
Banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat hidup manusia tidak tenang, Bahkan menyesatkan dan sampai pada perbuatan nekat yang merugikan orang lain.Mungkin kita bisa ambil contoh kisah seorang ayah yang tidak sabar dalam mendidik anak-anaknya, dengan berbagai macam kebutuhan hidup yang menderanya. Sementara sang ayah hanya bekerja sebagai buruh bangungan yang pendapatannya tidak sebanding dengan pengeluarannya sehari-hari. Ia telah mengeluarkan tenaga dari pagi hingga petang hari secara maksimal, lalu yang dia dapat adalah upah Rp. 10.000 setiap harinya. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu bahkan sampai hitungan tahunpun juga seperti itu. Ia merasa sudah bekerja dan berdo’a maksmimal kepada Allah supaya diberikan rizki yang lebih oleh Allah. Namun, pada kenyataan nya tetap saja rizkinya tidak berubah setiap harinya. Keluh kesahpun bersemayam dalam dirinya, bahkan tak jarang mengupat dengan keadaan. Sampai pada akhirnya sang ayah tadi, karena tidak tahan dengan penderitaan hidup dengan anak yang banyak, sang ayah nekat mengakhiri nyawa anak-anaknya dengan alasan untuk mengurangi beban hidupnya.
Persoalan tidak putus sampai disitu saja, bahkan berujung kepada penjara. Keluh kesah tersebut menyisakan persoalan yang terkadang tidak berujung. Memunculkan berbagai macam kesalahan-kesalahan yang tiada hentinya sebagai tindakan yang lahir darinya. 
  
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (Qs. Al-Ma’rij:20-21).
Banyak hal yang dapat kita jadikan contoh selain dari contoh yang disebutkan diatas yang sering kali kita dengar di lingkungan sekitar kita. Seperti halnya karyawan yang sering mengeluhkan gaji dan jabatan yang tidak naik-naik, kemacetan yang tak kunjung selesai, dan bahkan hal terkecil yang yang kita anggap sepele sekalipun bagi orang yang berkeluh kesah merupakan bencana besar yang menimpa hidupnya.
Keluh kesah hanyalah menyengsarakan hati, membuat hidup kita tidak tenang bahkan jauh dari rasa syukur kita kepada Allah yang telah menciptakan kita di muka bumi ini. Setiap keluh kesah yang bersemayam dalam diri kita, yang ditimbulkan adalah rasa sakit yang tiada henti. Hati tak pernah lapang, sempit terus-menerus. Sehingga akibat fatal yang dimunculkan banyak sekali. Bisa saja kita menjadi orang yang fasik bahkan murtad dari agama Allah.
 Meredam Keluh Kesah

Untuk meredam sifat keluh kesah manusia dapat dilakukan dengan salah cara yakni bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Coba kita lihat disekeliling kita, lihatlah apa yang telah kita punyai selama ini.
Hidup yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah untuk kita syukuri. Kita diberikan kesempatan untuk menghirup udaranya. Menikmati hasil buminya. Menikmati berbagai macam nikmat yang tak terhitung bahkan penciptakan diri  kita sendiri. Andaikan sebuah anggota tubuh ini dihargai satu-persatu mungkin tidak cukup buat kita untuk membayarnya kepada Allah. Karena kita tak mampu membuat sesempurna apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Bahkan dengan amalan yang telah kita  lakukan ribuan tahun belum mampu kita membayarnya. Luar biasanya Allah, apa yang kita lakukakan di muka bumi ini akan dikembalikan kepada kita sendiri. Semua tergantung kepada perbuatan kita.
Namun, itulah sifat manusia. Tak jarang dari kita yang selalu berkeluh kesah dengan apa yang diberikan oleh Allah. Selalu merasa kurang. Allah telah memberikan rezeki yang melimpah, masih saja kurang dan ingin menumpuk lebih banyak lagi. Allah sudah memberikan kecantikan. Bagi orang yang berkeluh kesah, tetap ada yang masih kurang.
Dulu manusia berdo’a ketika dia miskin ingin menjadi orang kaya. Lalu Allah mengabulkannya. Lalu setelah itu ia berdoa lagi ingin diberikan pendamping hidup. Allah mengabulkan. Setelah itu mereka mengingkari dengan merusak pernikahan mereka dengan alasan tidak cocok dengan pasangan mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah selingkuh, bahkan berakhir kepada perceraian.
Keluh kesah selalu menyumbat pola berfikir positif manusia terhadap sesuatu. Kita tak bisa menemukan solusi dari permasalahan hidup yang kita hadapi dengan pikiran-pikiran sempit kepada Allah. Karena Allahpun mengabulkan sesuatu sesuai dengan prasangka umat-NYA. Bagaimana kita menemukan alternatif-alternatif perubahan. Jika yang bersemayam dalam diri kita adalah keresahan-keresahan yang berkepanjangan. Kita tidak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan. Jika hati terus dilanda ketidaktenangan dengan kondisi hidup yang diberikan oleh Allah, maka kekufuran akan bersemayam yang menjadikan hati mati dari cahaya iman.
Kekesalan yang kita bangun justru akan menjadikan amarah yang bisa saja membunuh diri kita sendiri. Hati yang terlampau sering sesak dan bergelora tanpa pernah disirami dengan nilai keimananan. Maka hati tersebut bisa menjadi keras, kebenaran akan susah masuk. Hati tak bisa lagi memisahkan antara yang benar dengan yang salah. Alamat semakin terpuruklah manusia tersebut di jalan kesesatan. Na’uzubillah min zalik.
Allah berfirman:

 
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Qs. Ibrahim:7).
Berkaca pada firman Allah yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 7 ini bahwa dalam Islampun untuk mengatasi keluh kesah sudah diberikan panduannya dengan kita bersyukur dengan apa yang diberikan Allah. Menerima segala takdir yang telah di buat-NYA. Serta memiliki keyakinan bahwa dibalik setiap kisah-kisah yang diberikan kepada kita sebagai umat-NYA, tersimpan berjuta hikmah yang dapat memberikan pelajaran buat manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dengan menukar keluh kesah dengan rasa syukur yang terus-menerus, manusia tak akan pernah rugi. Bahkan Allah berjanji dengan menambahnya dengan sesuatu yang tidak terduga. Kemudian Allah menjadikan hati kita lebih tenang dan tentram. Tiada lagi kekhawatiran yang berujung negatif. Keluh kesah  kita arahkan pada keluh kesah positif (ukhrawi), bagaimana amalan Ibadah kita bisa diterima atau tidak oleh Allah. Dengan keluh kesah positif kita akan senantiasa meningkatkan mutu amal ibadah kita menjadi lebih baik.
Orang yang senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada Allah. Meyakini bahwa takdir Allah adalah takdir yang terbaik dan segala sesuatu sudah di atur dalam Lauh Mahfuz. Maka ia akan menjalani hidup ini dengan baik, hati yang damai, dengan senantiasa mengharap ridho Allah SWT bahwa segala sesuatu adalah pemberian yang terbaik. Sikapnya akan bijaksana dalam menyikapi setiap kejadian-kejadian. Ia jauh dari kebekuan. Hidupnya terasa lapang. Tutur katanya lebih santun dan  jauh dari sifat mengupat dan berkeluh kesah yang dapat menyengsarakan.
Perbanyak Zikir Kepada Allah
Selain menumbuhkan rasa syukur kita kepada Allah untuk menghilangkan rasa keluh kesah kita. Dengan berzikir akan membantu kita untuk membasuh hati kita dengan asma-asmanya. Melembutkan hati yang sedang gundah gulana. Berzikir tidak hanya dalam tataran lafaz namun dalam prilaku kita sehari-hari. Zikir tak hanya dalam keadaan kita sedang sholat saja, namun kapanpun dan di manapun kita berada. Zikir dapat kita lakukan bahkan dalam kondisi, duduk, berdiri maupun sedang berjalan. Subahanallah, Maha suci Allah dengan segala ketentuan-NYA.
Sebagaimana firman Allah mengatakan bahwa:  

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar.Rad:  28 ).
Dengan memperbanyak zikir kepada maka Allah akan memberikan ketentraman hati. Rasa nyaman dan kebahagiaan yang tak akan terbeli dengan apapun. Orang-orang seperti ini akan senantiasa tawadhu, rendah hati, dan jauh dari hal-hal yang membuatnya lalai mengingat Allah.
Zikir dapat membawa manusia ke alam berfikir tentang kekuasaan Allah. Mengapa Allah menciptakan semua ini. Mengapa Allah memberikan ujian dan cobaan. Mengapa Allah memberikan kesenangan dan kesedihan. Mengapa Allah menghidupkan dan mematikan. Mengapa Allah mengecilkan dan membesarkan. Banyak pertanyaan mengapa lainnya yang dapat kita urai dan kita ungkap. Allahuakbar, Maha Besar Allah yang telah menciptakan apapun di dunia ini. Jadi, buat apa kita menjadikan hidup kita resah terus menerus, sementara kita sudah tahu bahwa segala sesuatu telah diatur untuk menguji seorang hamba yang mengaku beriman kepada-NYA.
Menanamkan Sifat Tawakal
Selain bersyukur dan senantiasa berzikir kepada Allah atas apa yang diberikannya kepada kita, salah satu sifat yang dapat menentramkan kita adalah dengan bertawakal atau berserah diri kepada Allah. Dengan sifat ini kita tak perlu gelisah dan resah, jika segala sesuatu sudah kita lakukan dengan maksimal. Manusia yang memiliki sifat tawakal, dia yakin betul bahwa pemberian Allah adalah pemberian yang terbaik. Keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik. Meski jauh dari apa yang dia harapkan. Dia akan tetap memperbaiki apa yang kurang dalam setiap ikhtiarnya. Ketawakalan kepada Allah akan menjauhkannya dari sifat keluh dan kesah. Wallahu a’lam bi Shawab. 


Tulisan Ini di Muat di Buletin Masjid Al-Fatah Unisma, Edisi Agustus 2011, Vol 3, NO.1