Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Selasa, 31 Desember 2013

Ritual Pergantian Tahun: Oplosan atau Pembaharuan?



Bagi saya berganti tahun adalah hal yang paling menakutkan, takut tidak sampai, takut dengan sesuatu yang akan datang, takut dengan keramaian, hiruk-pikuk dan bunyi kembang api yang saling bersahutan.
Entah kenapa, suara itu tak damai di hati. Saya lebih mencintai kedamaian dan kesunyian, meski kondisi tak bisa menafikkan keramaian. Menyepi dan merenungi apa yang telah terjadi memang diperlukan, karna langkah akan terus berjalan, diberi tempat untuk rehat memikirkan bagaimana arah waktu selanjutnya akan digunakan.

Bahagiakah dengan hal yang baru tiba? padahal semua masih berbaju sama, seperti oplosan warna yang akan kembali ke dasarnya. Hanya nama yang berganti, ya nama pergantian itu sendiri. Kita senantiasa memakai yang baru secara atribut, namun apakah kita pernah berfikir bagaimana kebaharuan itu, bagaimana prilaku kita, bagaimana kehidupan yang kita lewati. Apanya yang baru. Hati dan pikiran kitakah, atau hanya simbolitas sebagai ritual kebaharuan itu saja? Jika semua masih sama, patutkah kita bergembira, merayakan sesuatu yang tiada berubah dari sebelumnya, atau bisa jadi justru lebih buruk dari tahun sebelumnya.

Ada yang tidak menyukai tulisan ini?. atau saya yang terrlalu berlebihan, tiada kegembiraan, tiada kesenangan dan rasa suka cita terhadap perubahan? Sikap itu tiada yang salah, bagaimana dengan diri kita? Perubahan apa yang membuat kita gembira, kesuksesan karir yang telah tercapai, banyak cita-cita yang telah terwujud, kehidupan yang lebih baikkah?. Saya percaya setiap orang punya ceritanya masing-masing. Tidak hanya berupa kesenangan, namun juga berbagai kesedihan, musibah yang bertubi-tubi. 

Bagi mereka yang sedang bersuka cita atas keberhasilan mereka dalam setahun ini, tentu akan bertambah bahagia dan memiliki pengharapan dimasa depan agar lebih baik. Bagi mereka yang mendapatkan berbagai ujian dan musibah bertubi-tubi, ada pengharapan di tahun mendatang, agar Tuhan berbaik hati untuk memberi mereka kehidupan yang lebih baik, dilepaskan dari kesedihan, harapan ingin diberi kebahagiaan.

Dua hal  yang mewarnai kehidupan kita penderitaan dan kebahagiaan, apakah dua hal ini yang membuat kita untuk merayakannya? Merayakan dengan pestapora dengan berbagai ornament yang tak tanggung-tanggung menghabiskan uang milyaran bahkan trilyunan.

Ada kempang api, petasan, mercon, yang siap ditembakkan atau diletuskan ke langit di atas sana. Bunyinya sudah seperti di arena perang. Dentumannya tak jarang menumbuhkan kekagetan dan keresahan bagi mereka yang punya penyakit jantung. Anak-anak kecil yang sedianya tertidur lelap terjaga menangis dan ingin mengalahkan teriakan dari mercon-mercon yang ditembakkan ke angkasa.

Ritual pergantian tahun yang sering kita hadapi, tak jauh dari pestapora, makan-makan, musik, dan intrik kesenangan lainnya salah satu cara memupuk kaum kapitalis dan tak jarang juga sampai pada perbuatan asusila yang dibenarkan pada malam ritual pembaharuan tahun. Pemakzulan diterima begitu saja, bagi sebagian orang yang mengikuti aroma sikap yang sama.

Setelah pestapora usai, kesenangan maya berganti kehidupan nyata, kita masih menemui dinding-dinding yang reyot, puing-puing bangunan yang hampir rubuh, kebodohan yang masih merajai si miskin. Kehidupan pinggiran yang masih menyayat hati, pesta hanya hiburan sesaat, seperti cinderela yang mimpi menikahi putra raja, hidup dalam istana yang megah, namun ia harus kembali kedunia nyata setelah lewat dari jam 12 malam tiba, esoknya menghadapi kenyataan hidup yang sama.

Terkadang saya membayangkan, bagaimana jika sekali-sekali seluruh dunia padam tiba-tiba, tanpa cahaya. Gelap menyelubungi kita, tak ada cahaya yang bisa dinyalakan pada malam akhir tahun tersebut. Tuhan meminta kita untuk menikmati kegelapan semalam suntuk, tiada yang bisa bergerak, bunyipun tidak. Dramatisasi yang menakutkan ketika itu benar-benar bukan pembaharuan, akan tetapi justru akhir tahun yang tiada lagi tahun berikutnya. Tahun penutup untuk kita semua.