Daftar Blog Saya

Daftar Blog Saya

Senin, 08 Desember 2014


Senja Mati

Oleh: Vira Surya

Senja yang teriris mati oleh pekat yang kian merambat
Ia datang menemui dalam hitungan waktu yang singkat
Berapa saatkah untuk dapat dinikmati, entah
Jika ia menekan waktu lebih lama.



( Bekasi, 8 Desember 2014)

Selasa, 31 Desember 2013

Ritual Pergantian Tahun: Oplosan atau Pembaharuan?



Bagi saya berganti tahun adalah hal yang paling menakutkan, takut tidak sampai, takut dengan sesuatu yang akan datang, takut dengan keramaian, hiruk-pikuk dan bunyi kembang api yang saling bersahutan.
Entah kenapa, suara itu tak damai di hati. Saya lebih mencintai kedamaian dan kesunyian, meski kondisi tak bisa menafikkan keramaian. Menyepi dan merenungi apa yang telah terjadi memang diperlukan, karna langkah akan terus berjalan, diberi tempat untuk rehat memikirkan bagaimana arah waktu selanjutnya akan digunakan.

Bahagiakah dengan hal yang baru tiba? padahal semua masih berbaju sama, seperti oplosan warna yang akan kembali ke dasarnya. Hanya nama yang berganti, ya nama pergantian itu sendiri. Kita senantiasa memakai yang baru secara atribut, namun apakah kita pernah berfikir bagaimana kebaharuan itu, bagaimana prilaku kita, bagaimana kehidupan yang kita lewati. Apanya yang baru. Hati dan pikiran kitakah, atau hanya simbolitas sebagai ritual kebaharuan itu saja? Jika semua masih sama, patutkah kita bergembira, merayakan sesuatu yang tiada berubah dari sebelumnya, atau bisa jadi justru lebih buruk dari tahun sebelumnya.

Ada yang tidak menyukai tulisan ini?. atau saya yang terrlalu berlebihan, tiada kegembiraan, tiada kesenangan dan rasa suka cita terhadap perubahan? Sikap itu tiada yang salah, bagaimana dengan diri kita? Perubahan apa yang membuat kita gembira, kesuksesan karir yang telah tercapai, banyak cita-cita yang telah terwujud, kehidupan yang lebih baikkah?. Saya percaya setiap orang punya ceritanya masing-masing. Tidak hanya berupa kesenangan, namun juga berbagai kesedihan, musibah yang bertubi-tubi. 

Bagi mereka yang sedang bersuka cita atas keberhasilan mereka dalam setahun ini, tentu akan bertambah bahagia dan memiliki pengharapan dimasa depan agar lebih baik. Bagi mereka yang mendapatkan berbagai ujian dan musibah bertubi-tubi, ada pengharapan di tahun mendatang, agar Tuhan berbaik hati untuk memberi mereka kehidupan yang lebih baik, dilepaskan dari kesedihan, harapan ingin diberi kebahagiaan.

Dua hal  yang mewarnai kehidupan kita penderitaan dan kebahagiaan, apakah dua hal ini yang membuat kita untuk merayakannya? Merayakan dengan pestapora dengan berbagai ornament yang tak tanggung-tanggung menghabiskan uang milyaran bahkan trilyunan.

Ada kempang api, petasan, mercon, yang siap ditembakkan atau diletuskan ke langit di atas sana. Bunyinya sudah seperti di arena perang. Dentumannya tak jarang menumbuhkan kekagetan dan keresahan bagi mereka yang punya penyakit jantung. Anak-anak kecil yang sedianya tertidur lelap terjaga menangis dan ingin mengalahkan teriakan dari mercon-mercon yang ditembakkan ke angkasa.

Ritual pergantian tahun yang sering kita hadapi, tak jauh dari pestapora, makan-makan, musik, dan intrik kesenangan lainnya salah satu cara memupuk kaum kapitalis dan tak jarang juga sampai pada perbuatan asusila yang dibenarkan pada malam ritual pembaharuan tahun. Pemakzulan diterima begitu saja, bagi sebagian orang yang mengikuti aroma sikap yang sama.

Setelah pestapora usai, kesenangan maya berganti kehidupan nyata, kita masih menemui dinding-dinding yang reyot, puing-puing bangunan yang hampir rubuh, kebodohan yang masih merajai si miskin. Kehidupan pinggiran yang masih menyayat hati, pesta hanya hiburan sesaat, seperti cinderela yang mimpi menikahi putra raja, hidup dalam istana yang megah, namun ia harus kembali kedunia nyata setelah lewat dari jam 12 malam tiba, esoknya menghadapi kenyataan hidup yang sama.

Terkadang saya membayangkan, bagaimana jika sekali-sekali seluruh dunia padam tiba-tiba, tanpa cahaya. Gelap menyelubungi kita, tak ada cahaya yang bisa dinyalakan pada malam akhir tahun tersebut. Tuhan meminta kita untuk menikmati kegelapan semalam suntuk, tiada yang bisa bergerak, bunyipun tidak. Dramatisasi yang menakutkan ketika itu benar-benar bukan pembaharuan, akan tetapi justru akhir tahun yang tiada lagi tahun berikutnya. Tahun penutup untuk kita semua.



Sabtu, 14 Januari 2012

CERITA TENTANG CERPENIS CILIK


CERITA TENTANG CERPENIS CILIK
Oleh Elvira Suryani

Hari ini membuatku bersemangat.  Kesempatan yang jarang-jarang untuk mengajar anak-anak lagi.  Menghadapi anak-anak masih menjadi PR  besar bagiku. Tak seperti orang dewasa, dan mahasiswa masih lebih mudah dibandingkan menghadapi anak-anak usia Sekolah Dasar (SD). Bukan aku tidak menyukai anak-anak. Bukan perkara itu.  Hanya masalah cara saja yang perlu ku pelajari. Jadi kakak mentor bagi mereka butuh kesabaran yang lebih. Kita harus punya segudang kreatifitas untuk bisa menankhlukkan mereka.

Sabtu (14/1) di SD –IT Alhusnayain, di tempat ini lah aku mengajarkan mereka untuk menulis cerpen. Berangkat pagi-pagi dari rumah pukul 6.15, dengan asumsi agar tidak terlambat. Meski sebelumnnya pernah ke sana untuk mengisi ekskul di SMP ITnya, tetap saja, aku lupa naik mobil apa ke sana. Sms teman yang pernah ngajar di sana, akhirnya aku dapat informasi untuk menuju ke Alhusnayaiin, naik angkot K31 katanya. Print materi yang dikirim oleh seorang teman, baru lanjut perjalanan. 

Aku naik angkot 07 terlebih dahulu. Turun di Harapan Baru. Biasanya disitulah angkot K31 lebih banyak nangkiring. Berhubung masih pagi, para supir angkot senang sekali ngetem. Mereka tidak perduli dengan penumpang mau ada yang terburu-buru atau tidak. Bagi mereka bagaimana untuk bisa setoran penuh hari ini. Lihat waktu di jam tanganku sudah menunjukan pukul 7.00 WIB. Aku masih punya waktu sekitar 30 menit lagi untuk sampai di sekolah pukul 7.30 WIB. Sementara aku masih berada di sekitar MM Bekasi. Ada rasa khawatir. Kesan pertama tak ingin mengecewakan, itu yang ada dalam benakku. Soalnya menggantikan seorang teman, berarti harus menjaga kepercayaan yang diberikannya.

Dengan mulut komat-kamit, aku berdo’a dalam hati semoga si abang angkot mau menjalankan angkotnya. Setelah ada satu penumpang yang menemaniku. Akhirnya jalan juga. Sekitar pukul 7.15 aku sampai di Harapan Baru. Turun, memberikan lembaran 3 ribuan. Aku mencari-cari angkot K31. Tengok kiri-kanan, tak ada tanda-tanda angkot tersebut akan hadir. Aku pun memutuskan untuk naik ojek untuk mengantisipasi keterlambatan hadir di sekolah. 

Ada cerita  yang unik disepanjang perjalanan.  Seumur hidupku, baru kali ini  naik ojek full musik. Si abang tukang ojek ternyata meyukai lagu Iwan falls yang diputarnya. Aku hanya tersenyum sendiri, melihat tingkah si abang tukang ojek. Sekitar 10 menit,  aku pun sudah menginjakkan kaki di SD-IT Alhusnayain.
Di sekolah memang sudah terlihat anak-anak. Namun, aku tidak tahu yang mana anak-anak yang akan mengikuti ekskul jurnalistik. Aku mencoba menghubungi guru pendamping ekskul tersebut. Bertanya kepada seorang bapak penjaga kebersihan sekolah. Ternyata  guru tersebut belum hadir. Aku memutuskan untuk ke Mushola terlebih dahulu. Letaknya diluar gedung sekolah. Rehat sejenak, selagi masih ada waktu untuk bermunajat, pikirku. Kemudian aku kembali ke sekolah lagi.

Karena terburu-buru, aku tidak membawa hanphone simpatiku. Aku  menghubungi seorang teman yang telah merekomendasikan aku untuk menggantikannya hari ini. Ku tulis SMS untuknya. Setelah beberapa menit smspun berbalas. Aku mencoba untuk menghubung no, HP guru pendamping Ekskul, namun tak ada jawaban. Aku putuskan untuk bertanya lagi kepada si Bapak penjaga sekolah. Bapak tersebut menyarankanku untuk ke ruangan guru saja di lantai 2. Ku ikuti sarannya. Pucuk di cinta ulampun tiba. Aha, guru pendamping ekskul telah datang. Aku memperkenalkan diri. Guru tersebut menyuruhku masuk ke ruangan para guru. Perkenalan singkatpun terjadi sambil menikmati teh pagi buatannya.

Sekitar pukul 8 pagi, aku diajak ke lantai 3 untuk memulai ekskul jurnalistik. Ada sekitar sepuluh orang anak yang sudah menunggu didalam ruangan kelas 3A. Menurut informasi dari bu Yuli, bahwa awalnya ada 50 orangan, tapi yang datang untuk pertemuan-pertemuan berikutnya hanya kadang 30 , terkadang 20 an, begitu katanya.

Baiklah tidak masalah bagiku. Berapapun jumlah anak-anak hari ini. Aku tetap akan berbagi ilmu dengan mereka. Awal pertemuan, aku memperkenalkan diri. Setelah itu aku menanyakan satu-persatu nama mereka, kenapa mereka tertarik dengan ekskul jurnalistik.
“ Aku penasaran aja kak, kayak apa ekskul jurnalistik itu”. Sahut Fara padaku.
“Aku  senang nulis kak. “ Ungkap Caca.

Komentar-komentar lainpun bermunculan.  Beragam motivasi mereka untuk mengikuti ekskul jurnalistik. Ya, itulah dunia anak-anak. Ada yang betul-betul dari keinginan mereka sendiri. Ada juga karena dorongan teman. 

Untuk menghidupkan suasana, aku ajak mereka bermain dan bernyanyi terlebih dahulu.  Tujuan awal untuk membuat mereka nyaman terlebih dahulu.  Mereka mencari pasangan masing-masing, kemudian berhadap-hadapan. Saling menyapa, bernyanyi, berputar-putar. Persis untuk anak tk, tapi ya itulah yang ada dalam benakku saat itu.

Ketika kami sedang asyik bermain game tersebut, peserta ekskul lainpun berdatangan satu persatu sehingga anggota yang tadinya berjumlah sepuluh sudah bertambah menjadi duapuluhan. Selesai game, aku meminta perserta untuk membuat lingkaran. Baru memulai materi. Wah, luarbiasa untuk membuat mereka nyaman, musti banyak game juga nie.

Sebelum membahas materi, aku minta peserta mengeluarkan kertas satu lembar . Kemudian menuliskan nama masing-masing. Menuliskan alamat dan kelas mereka. Lalu, Aku pun membagikan materi yang akan dibahas. 

Akupun mulai meminta mereka untuk menuliskan satu kalimat yang mereka suka. Setelah itu diberikan kepada teman disebelahnya. Temannya berusaha untuk melanjutkan kalimat yang telah dibuat awal. Nampaknya, cara ini mereka agak kesulitan. Ada yang bisa, ada juga yang masih malas-malasan. Aku cari akal lagi bagaimana untuk menghidupkan suasana lagi.

Setelah ku tanya kepada adik-adik dari kelas tiga sampai kelas lima tersebut, mereka mau main game kembali. Aku memberikan game asah otak versi ku, ternyata tak mempan untuk membuat mereka semangat. Wah, apalagi ya, aku sempat bertanya-tanya pada mereka. Sang guru pendamping ekskul melihatku agak kesulitan beradaptasi. 

Ia berinisiatif untuk membuat game yang sudah akrab dengan anak-anak. Dengan memberikan contoh, akupun mengikuti permain kata kunci yang diberikan tersebut. Aku bercerita di tengah-tenngah mereka, membuat kata kunci, setiap kata kunci yang disebutkan anak-anak harus menyentuh tangan temannya disebelah kanan. Sementara teman yang disentuh tangannya berusaha untuk menghindar. Suasana kelas hidup kembali, aku merasa terbantu. Hieks… coba yang dampingi pak guru ganteng ya, wah bisa betah berlama-lama ngajar anak-anak (khayalan tingkat tinggi, just intermezzo).

Permainan kedua sukses. Materi “Menjadi Seorang Cerpenis dilanjutkan. Aku meminta seorang anak untuk membacakan cerpen  di tengah-tengah temannya. Awalnya banyak yang tidak mau, dengan iming-iming hadiah, Ada satu anak yang bergegas untuk membaca cerpen. Meski agak kurang keras, aku berusaha untuk menyimak cerpen yang dibacakan tersebut. 

Setelah itu baru aku bahas unsur-unsur cerpen sesuai dengan contoh cerpen yang dibacakan tersebut Tema, Setting, Tokoh, dan Konflik.  Kaitkan dengan cerpen yang sudah ada, lalu mengajak mereka menulis.
Waktu yang tersisa sekitar 30 menit untuk mereka menulis. Aku biarkan mereka berimajinasi sebebas mungkin. Apa aja boleh, kataku pada mereka. Apa yang kamu suka, silahkan tulis.Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 WIB. Aku mengitari mereka satu-persatu. Wah, hebat, ada yang sudah menulis dua halaman. Ada yang dua halaman, ada yang satu setengah. Aku bangga, tiga halaman yang mereka tulis ternyata belum selesai. Aku sengaja tidak mengambilnya untuk dikumpulkan. Aku meminta mereka untuk melanjutkan cerpen mereka di rumah, mengetiknya, lalu mengirimkan lewat email.

Terima kasih untuk hari ini, adik-adiku yang manis. Jangan kapok untuk ketemu kakak lagi. Bahagianya berada di tengah-tengah kalian. Ekskul usai, mereka pamit sambil mencium punggung tanganku satu persatu. Aku berlalu menyusuri anak tangga menuju lantai 2 untuk mengisi absen teman yang aku gantikan.
Di ruangan Kepala sekolah,aku berkenalan dengan guru ekskul angklung. Ia tinggal di Tanjung Priok. Cukup jauh dariku. Entah jam berapa ia berangkat dari rumah. Yang pasti iapun rela berangkat pagi, demi anak-anaknya tercinta.

Sayang sekali aku tak bisa ngobrol berlama-lama dengan guru yang lain diruang tersebut. Ada agenda lain yang sudah menanti. Aku pamit dan langsung menuju Unisma. Itu ceritaku. Apa ceritamu?.

Rabu, 28 Desember 2011

DISKUSI PUBLIK

Diskusi Publik Menuju PILKADA Kab. Bekasi
“SMART LOCAL GOVERNMENT LEADER FOR GOOD INVESTMENT  POLICY”

Dialog Diskusi semalam (27/12) yang digagas oleh Institute Leadership Indonesia, masih memunculkan tanda tanya dibenak saya. Diskusi yang bertempat di @ Home Hotel, Plaza Metropolitan Tambun Bekasi ini membahas tentang sosialisasi PILKADA yang akan berlangsung pada bulan Maret mendatang. Dalam diskusi publik sedianya empat orang narasumber  yang akan berbicara pada malam itu, namun pada kenyataannya dua orang tidak hadir dengan alasan tertentu. Dari KPU dan Praktisi pendidikan.
Baiklah, tidak masalah yang terpenting bisa menghangatkan diskusi publik dengan kondisi peserta yang tadinya ditargetkan oleh panitia sebanyak 50 orang, yang hadir hanya sekitar 25 orang , termasuk saya dan 3 rekan dosen senior lainnya (dari akademisi).

Awal diskusi sebetulnya akan dibuka oleh Ketua KPU Kab. Bekasi yang akan mensosialisasikan mengenai PILKADA Kab. Bekasi Pada tahun 2012 nanti. Namun beliau tidak hadir, digantikan oleh sekrtaris beliau Bapak Rahmat Nuryono, M.Si. Itupun tidak begitu banyak membahas tentang kondisi pilkada Kab. Bekasi. Pemaparan yang singkat, namun menyisakan tanya yang perlu dijawab berkenaan dengan aturan-aturan PILKADA 2012 mendatang.

Sekitar 10 menit, moderator telah mempersilahkan pembicara pertama yang berasal dari Ketua Ombudsmen RI ( kinerjanya hampir mirip dengan KPK), yakni Bapak Danang Girindrawardana). Dalam paparan makalahnya, beliau menyampaikan pentingnya  memilih pemimpin yang berani merombak  persoalan-persoalan yang muncul dalam birokrasi pemerintahan.  Salah satunya, masalah yang masih mendarahdaging di kalangan elit pemerintahan “Maraknya KKN”. 

Ada beberapa kriteria yang beliau ditawarkan kepada calon kandidat  yakni sebanyak 6 kriteria yang nantinya menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih. 1) Memangkas birokrasi yang gemuk dalam pemerintahan, berarti memaksimalkan kinerja pegawai-pegawai yang handal. 2)Mengkampanyekan reformasi Birokrasi kepada kalayak, jika dalam masa pemerintahannya , birokrasi dianggap sudah tidak layak dan diperlukan pembaharuan. 3) Memperbaiki moral  para pegawainya yang dianggap bobrok dan mencemarkan pemerintahannya. 4) Memangkas Nepotisme dalam birokrasi.(5 mengontrol anggaran yang begitu besar dengan melakukan efesiensi, efesiensi di berbagai bidang.(6 memangkas korupsi yang masih menjadi darah daging dalam masyarakat. Setidaknya ada 6 point tersebut yang saya tangkap dalam pemaparan beliau. 

Disamping ada tantangan dari pembicara tersebut yang mengatakan “Dicari pemimpin yang berani populis.  Saat ini diperlukan pemimpin yang berfikir makro, bukan mikro. Permasalahan yang berkembang dimasyarakat sudah komplek dan tidak berkutat di daerahnya saja, namun sudah berkembang ke berbagai wilayah-wilayah lainnya, bahkan sampai pada taraf internasional.

Menurut penilaian Ketua Onbustman,  pemimpin saat ini jarang yang memiliki keberanian untuk memangkas birokrasi yang sudah dibuatnya sendiri. Hambatan-hambatan tersebut berasal dari janji-janji kampanye yang sudah diikrarkan di kontrak politik dengan beberapa partai koalisi, sehingga adanya rasa sungkan. Ketika birokrasi membutuhkan perombakan, hal itu jarang dilakukan.  Seperti halnya yang dilakukan oleh Susilo Bambang Yudoyono ketika mereformasi Birokasi bukan memangkas, menggemukkkan. Sehingga pos-pos anggaran bertambah, seiring dengan pertambahan elit-elit politik yang masuk di jajaran birokrasi.

Pembicara kedua berbicara masalah “Prespektif Investor terhadap Kebijakan Pemerintahan Daerah: (Vice President MGM:Ir. Purwanto, MT.). Ada slogan yang beliau sebutkan bahwa jika ingin mendapatkan lebih, kita harus berbuat lebih. Berbicara masalah investasi, beliau mengatakan bahwa terbagi ke dalam dua golonga; 1) Investasi dari leher ke atas, 2) Investasi dari leher  ke bawah. Investasi dari leher ke atas adalah investasi berupa pendidikan kepada masyarakat sehingga mereka bisa berfikir untuk meningkatkan taraf hidupnya. Berbeda halnya dengan investasi dari leher ke bawah yang lebih bersifat konsumtif, sehingga menumbuhkan masyarakat yang bergantung dan lebih berfikir instant. 

Permasalahan yang ada di pemerintahan kita adalah “Local Society” krisis kepercayaan masyarakat rendah. Pemberdayaan sumber daya penting untuk meningkatkan kualitas kinerja pemimpin.
Beliau sempat membahas pentingnya kriteria khusus pemimpin yang ditentukan oleh masyarakat. Seperti halnya di zaman Kerajaan Majapahit, ketika Patih Gajah Mada menjadi pemimimpin, memiliki 18 kriteria yang diajukan oleh masyarakat. Sayang sekali pemaparannya tidak terlalu panjang lebar, hanya sekilas saja, salah satu kriterianya adalah menjadi abdi masyarakat (pelayanan masyarakat/Abdidamika).

Dari pemamparan kedua pembicara tersebut berkembang ke arah diskusi. Masalah Diskusi yang diangkat lebih kepada kasus-kasus yang berkaitan dengan masalah dampak Investasi yang lebih cenderung kepada sektor industry dan jasa. Sektor pertanian yang menjadi lumbung pangan masyarakat tidak tersentuh sama sekali oleh para investor. Kemudian penekanan pada sanitasi yang menjadi sumber masalah dengan banyaknnya lahan-lahan perumahaan serta Industri-industri yang bermukim di wilayah kab. Bekasi. Dampak ini cukup signifikan terhadap pengelolaan sumber air bersih dan resapan air yang menjadi penyebab utama banjir.

Para audience diskusi publik terdiri dari organisasi kemasyarakat, pengusaha dan praktisi pendidikan. Salah satu organisasi kemasyarakatan yang hadir pada malam tersebut adalah HKTI (Himpunan Kelompok Tani Indonesia) Kab. Bekasi   yang mempertanyakan masalah investasi di bidang pertanian yang jarang dilirik oleh para investor. Kemudian para pengusaha yang bergerak di bidang Industri lebih mengeluhkan tentang kenaikan UMK (Upah minimum Kabupaten) , kekhawatiran mereka terhadap larinya para investor ke wilayah lain yang memiliki UMK lebih rendah di bandingkan Indonesia. Hal ini pun sudah terjadi di Negara RRC yang menaikkan Upah para pekerjanya sehingga kalangan investor dari luar banyak yang menarik perusahaan-perusahaan dari negeri China tersebut.
 
Isue pemekaran wilayah Kabupaten Bekasi, pendidikan khusus calon Bupati sempatkan di paparkan oleh para dosen Unisma Bekasi. Perlunya memunculkan pendidikan karakter bagi pemimpin agar lahirnya para pemimpin-pemimpin yang memiliki akhlak pancasilais.
Pemaparan dari diskusi Publik tersebut lebih bersifat pandangan-pandangan yang akan di kembangkan pada debat kandidat calon Bupati Kab. Bekasi bersama rakyat kabupaten Bekasi. Semoga wacana yang dibahas tidak hanya sekedar wacana yang mencuap kemudian menghilang begitu saja tanpa adanya solusi.


Selasa, 20 Desember 2011

KELUH KESAH YANG MENYENGSARAKAN


KELUH KESAH YANG MENYENGSARAKAN
Oleh Elvira Suryani



Apa yang senantiasa ditargetkan oleh manusia tak selamanya tercapai dengan tujuannya semula. Ingin mendapatkan pendapatan yang lebih, ingin cepat sampai, ingin perjalanan lancar, ingin jabatan naik. Banyak ingin-ingin lainnya yang telah direncakanan dengan matang, jadwal yang rapih dan ternyata tidak tidak sesuai dengan kehendak manusia. Apa yang terjadi adalah munculnya sifat keluh kesah, sebagaimana Allah berfirman:

Artinya:
Sesungguhnya,manusia itu diciptakan dalam keadaan berkeluh kesah lagi kikir.” (Qs.Al-Ma’rij: 19).
Banyak kekhawatiran-kekhawatiran yang membuat hidup manusia tidak tenang, Bahkan menyesatkan dan sampai pada perbuatan nekat yang merugikan orang lain.Mungkin kita bisa ambil contoh kisah seorang ayah yang tidak sabar dalam mendidik anak-anaknya, dengan berbagai macam kebutuhan hidup yang menderanya. Sementara sang ayah hanya bekerja sebagai buruh bangungan yang pendapatannya tidak sebanding dengan pengeluarannya sehari-hari. Ia telah mengeluarkan tenaga dari pagi hingga petang hari secara maksimal, lalu yang dia dapat adalah upah Rp. 10.000 setiap harinya. Dari hari ke hari, dari minggu ke minggu bahkan sampai hitungan tahunpun juga seperti itu. Ia merasa sudah bekerja dan berdo’a maksmimal kepada Allah supaya diberikan rizki yang lebih oleh Allah. Namun, pada kenyataan nya tetap saja rizkinya tidak berubah setiap harinya. Keluh kesahpun bersemayam dalam dirinya, bahkan tak jarang mengupat dengan keadaan. Sampai pada akhirnya sang ayah tadi, karena tidak tahan dengan penderitaan hidup dengan anak yang banyak, sang ayah nekat mengakhiri nyawa anak-anaknya dengan alasan untuk mengurangi beban hidupnya.
Persoalan tidak putus sampai disitu saja, bahkan berujung kepada penjara. Keluh kesah tersebut menyisakan persoalan yang terkadang tidak berujung. Memunculkan berbagai macam kesalahan-kesalahan yang tiada hentinya sebagai tindakan yang lahir darinya. 
  
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (Qs. Al-Ma’rij:20-21).
Banyak hal yang dapat kita jadikan contoh selain dari contoh yang disebutkan diatas yang sering kali kita dengar di lingkungan sekitar kita. Seperti halnya karyawan yang sering mengeluhkan gaji dan jabatan yang tidak naik-naik, kemacetan yang tak kunjung selesai, dan bahkan hal terkecil yang yang kita anggap sepele sekalipun bagi orang yang berkeluh kesah merupakan bencana besar yang menimpa hidupnya.
Keluh kesah hanyalah menyengsarakan hati, membuat hidup kita tidak tenang bahkan jauh dari rasa syukur kita kepada Allah yang telah menciptakan kita di muka bumi ini. Setiap keluh kesah yang bersemayam dalam diri kita, yang ditimbulkan adalah rasa sakit yang tiada henti. Hati tak pernah lapang, sempit terus-menerus. Sehingga akibat fatal yang dimunculkan banyak sekali. Bisa saja kita menjadi orang yang fasik bahkan murtad dari agama Allah.
 Meredam Keluh Kesah

Untuk meredam sifat keluh kesah manusia dapat dilakukan dengan salah cara yakni bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Coba kita lihat disekeliling kita, lihatlah apa yang telah kita punyai selama ini.
Hidup yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah untuk kita syukuri. Kita diberikan kesempatan untuk menghirup udaranya. Menikmati hasil buminya. Menikmati berbagai macam nikmat yang tak terhitung bahkan penciptakan diri  kita sendiri. Andaikan sebuah anggota tubuh ini dihargai satu-persatu mungkin tidak cukup buat kita untuk membayarnya kepada Allah. Karena kita tak mampu membuat sesempurna apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Bahkan dengan amalan yang telah kita  lakukan ribuan tahun belum mampu kita membayarnya. Luar biasanya Allah, apa yang kita lakukakan di muka bumi ini akan dikembalikan kepada kita sendiri. Semua tergantung kepada perbuatan kita.
Namun, itulah sifat manusia. Tak jarang dari kita yang selalu berkeluh kesah dengan apa yang diberikan oleh Allah. Selalu merasa kurang. Allah telah memberikan rezeki yang melimpah, masih saja kurang dan ingin menumpuk lebih banyak lagi. Allah sudah memberikan kecantikan. Bagi orang yang berkeluh kesah, tetap ada yang masih kurang.
Dulu manusia berdo’a ketika dia miskin ingin menjadi orang kaya. Lalu Allah mengabulkannya. Lalu setelah itu ia berdoa lagi ingin diberikan pendamping hidup. Allah mengabulkan. Setelah itu mereka mengingkari dengan merusak pernikahan mereka dengan alasan tidak cocok dengan pasangan mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah selingkuh, bahkan berakhir kepada perceraian.
Keluh kesah selalu menyumbat pola berfikir positif manusia terhadap sesuatu. Kita tak bisa menemukan solusi dari permasalahan hidup yang kita hadapi dengan pikiran-pikiran sempit kepada Allah. Karena Allahpun mengabulkan sesuatu sesuai dengan prasangka umat-NYA. Bagaimana kita menemukan alternatif-alternatif perubahan. Jika yang bersemayam dalam diri kita adalah keresahan-keresahan yang berkepanjangan. Kita tidak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan. Jika hati terus dilanda ketidaktenangan dengan kondisi hidup yang diberikan oleh Allah, maka kekufuran akan bersemayam yang menjadikan hati mati dari cahaya iman.
Kekesalan yang kita bangun justru akan menjadikan amarah yang bisa saja membunuh diri kita sendiri. Hati yang terlampau sering sesak dan bergelora tanpa pernah disirami dengan nilai keimananan. Maka hati tersebut bisa menjadi keras, kebenaran akan susah masuk. Hati tak bisa lagi memisahkan antara yang benar dengan yang salah. Alamat semakin terpuruklah manusia tersebut di jalan kesesatan. Na’uzubillah min zalik.
Allah berfirman:

 
dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Qs. Ibrahim:7).
Berkaca pada firman Allah yang disebutkan dalam surat Ibrahim ayat 7 ini bahwa dalam Islampun untuk mengatasi keluh kesah sudah diberikan panduannya dengan kita bersyukur dengan apa yang diberikan Allah. Menerima segala takdir yang telah di buat-NYA. Serta memiliki keyakinan bahwa dibalik setiap kisah-kisah yang diberikan kepada kita sebagai umat-NYA, tersimpan berjuta hikmah yang dapat memberikan pelajaran buat manusia agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Dengan menukar keluh kesah dengan rasa syukur yang terus-menerus, manusia tak akan pernah rugi. Bahkan Allah berjanji dengan menambahnya dengan sesuatu yang tidak terduga. Kemudian Allah menjadikan hati kita lebih tenang dan tentram. Tiada lagi kekhawatiran yang berujung negatif. Keluh kesah  kita arahkan pada keluh kesah positif (ukhrawi), bagaimana amalan Ibadah kita bisa diterima atau tidak oleh Allah. Dengan keluh kesah positif kita akan senantiasa meningkatkan mutu amal ibadah kita menjadi lebih baik.
Orang yang senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada Allah. Meyakini bahwa takdir Allah adalah takdir yang terbaik dan segala sesuatu sudah di atur dalam Lauh Mahfuz. Maka ia akan menjalani hidup ini dengan baik, hati yang damai, dengan senantiasa mengharap ridho Allah SWT bahwa segala sesuatu adalah pemberian yang terbaik. Sikapnya akan bijaksana dalam menyikapi setiap kejadian-kejadian. Ia jauh dari kebekuan. Hidupnya terasa lapang. Tutur katanya lebih santun dan  jauh dari sifat mengupat dan berkeluh kesah yang dapat menyengsarakan.
Perbanyak Zikir Kepada Allah
Selain menumbuhkan rasa syukur kita kepada Allah untuk menghilangkan rasa keluh kesah kita. Dengan berzikir akan membantu kita untuk membasuh hati kita dengan asma-asmanya. Melembutkan hati yang sedang gundah gulana. Berzikir tidak hanya dalam tataran lafaz namun dalam prilaku kita sehari-hari. Zikir tak hanya dalam keadaan kita sedang sholat saja, namun kapanpun dan di manapun kita berada. Zikir dapat kita lakukan bahkan dalam kondisi, duduk, berdiri maupun sedang berjalan. Subahanallah, Maha suci Allah dengan segala ketentuan-NYA.
Sebagaimana firman Allah mengatakan bahwa:  

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar.Rad:  28 ).
Dengan memperbanyak zikir kepada maka Allah akan memberikan ketentraman hati. Rasa nyaman dan kebahagiaan yang tak akan terbeli dengan apapun. Orang-orang seperti ini akan senantiasa tawadhu, rendah hati, dan jauh dari hal-hal yang membuatnya lalai mengingat Allah.
Zikir dapat membawa manusia ke alam berfikir tentang kekuasaan Allah. Mengapa Allah menciptakan semua ini. Mengapa Allah memberikan ujian dan cobaan. Mengapa Allah memberikan kesenangan dan kesedihan. Mengapa Allah menghidupkan dan mematikan. Mengapa Allah mengecilkan dan membesarkan. Banyak pertanyaan mengapa lainnya yang dapat kita urai dan kita ungkap. Allahuakbar, Maha Besar Allah yang telah menciptakan apapun di dunia ini. Jadi, buat apa kita menjadikan hidup kita resah terus menerus, sementara kita sudah tahu bahwa segala sesuatu telah diatur untuk menguji seorang hamba yang mengaku beriman kepada-NYA.
Menanamkan Sifat Tawakal
Selain bersyukur dan senantiasa berzikir kepada Allah atas apa yang diberikannya kepada kita, salah satu sifat yang dapat menentramkan kita adalah dengan bertawakal atau berserah diri kepada Allah. Dengan sifat ini kita tak perlu gelisah dan resah, jika segala sesuatu sudah kita lakukan dengan maksimal. Manusia yang memiliki sifat tawakal, dia yakin betul bahwa pemberian Allah adalah pemberian yang terbaik. Keputusan Allah adalah keputusan yang terbaik. Meski jauh dari apa yang dia harapkan. Dia akan tetap memperbaiki apa yang kurang dalam setiap ikhtiarnya. Ketawakalan kepada Allah akan menjauhkannya dari sifat keluh dan kesah. Wallahu a’lam bi Shawab. 


Tulisan Ini di Muat di Buletin Masjid Al-Fatah Unisma, Edisi Agustus 2011, Vol 3, NO.1

MEMIMPIKAN PEMIMPIN INDONESIA YANG BERKARAKTER KEISLAMAN



Oleh Elvira Suryani, S.IP

Aku akan bangga, jika negeri ini di pimpin oleh seorang yang memiliki sosok seperti khalifah Umar Bin Abdul Aziz. Negeri yang penuh dengan kejayaan, tak ada lagi orang yang minta-minta, tak ada lagi pengemis, dan orang miskin. 
Bahkan di masa pemerintahan beliau, zakatpun sudah di ekspor ke Negara lain, karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat di negeri yang beliau pimpin. Subahanallah, betapa indahnya hidup, ketika syari’at tidak sekedar retorika belaka, tidak hanya sekedar simbol saja, namun dijadikan pondasi dan aktualisasi dalam menjalankan kehidupan bernegara.
Jika dibanding dengan Indonesia saat ini , sangat jauh sekali dari hal tersebut, meski banyak penduduk yang beragama Islam, namun kita jauh sekali dari nilai-nilai keislaman tersebut. Power seorang pemimpin hanyalah terlihat dari batasan fisik, bukan akhlak dan kredibilitas yang mampu mengayomi masyarakat. Uang menjadi prioritas penentu dalam  merebut kekuasaan, bukan akhlak.
Miris sekali melihat kondisi negari yang carut-marut ini,masyarakat sekarang pun sudah apatis terhadap pemimpin. Siapapun pemimpinnya semua tetap akan di hujat, di diskreditkan, bahkan dijatuhkan oleh lawan politiknya.
Aku rindu, rindu sekali Indonesia yang berkarakter Islam, baik rakyat maupun penguasa. Jika hal ini ditanamkan sejak dini kepada generasi, bukan hal yang mustahil, 5 tahun ke depan Indonesia bisa bangkit kembali. Beragama dijadikan pegangan dalam melaksanakan berbagai macam aktivitas kebangsaan dan kemasyarakatan. Bukan memisahkan antara agama dan Negara seperti yang dilakukan oleh salah satu founding father (pendiri bangsa) Indonesia yakni Ir.Soekarno, pengkotak-kotakan keyakinan dengan pelaksanaannya lah yang pada akhirnya kita tidak mampu mencapai tujuan yang kita inginkan. Karena setiap pedoman dasar yang kita punya tidak kita gunakan dalam setiap aktualisasinya. 
Jika hal ini sudah tertanam dalam masyarakat dan penguasa, maka hukum sebagai payung  (pelindung) masyarakat tidak akan mampu lagi di tembus oleh para mafia hukum. Karena karakter keislaman sudah masuk dalam diri para penegak hukum yang menyadari bahwa ada pertanggungjawaban besar di negeri keabadian kelak ketika mereka menyelewengkan hukum yang sudah dibuat.
Kemudian negeri ini akan bebas dari kemiskinan, karena setiap masyarakat sadar dan memahami bahwa memberi adalah bagian dalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan dalam kepribadiannya sebagai seorang yang beragama. 
Banyak hal lain lagi yang bisa dimunculkan dengan tumbuhnya kepribadian-kepriadian yang berkarakter Islam, seperti; masyarakat yang taat hukum, masyarakat yang bersih, masyarakat yang dermawan, masyarakat yang taat kepada pemimpinnya dan sebagainya.

Bekasi 17 Februari 2011, tulisan ini pernah diikut sertakan pada Lomba Peduli Indonesia